Biaya Operasional Mahasiswa Berkeadilan ala UI

Sesi terakhir dari simposium ini adalah bedah tentang Biaya Operasional Mahaiswa Berkeadilan yang pernah dirintis Universitas Indonesia hingga akhirnya diadopsi oleh Ditjen Dikti dalam bentuk uang kuliah tunggal (UKT). Pembicaranya adalah presiden BEM UI yang juga rekan bakti nusa, Ali Abdillah, kemudian bagian kemahasiswaan UI, dan mahasiswa peserta lomba paper Makmal Pendidikan DD yang tema penelitiannya tentang UKT.

Sistem pembiayaan pendidikan di UI sebenarnya berawal dari rencana rektor untuk melakukan kenaikan biaya semesteran. Karena pada waktu itu biaya semesteran mahasiswa S-1 reguler perlu dinaikkan untuk mencukupi biaya operasional. Akhirnya muncul demo besar-besaran hingga akhirnya rektor membuat 3 opsi. Pertama biaya SKS bersifat variabel, kedua biaya kuliah naik 300 ribu per semester, atau biaya kuliah berkeadilan (namun saat itu belum ada konsepnya).

Perwakilan BEM UI pun melakukan survey ke universitas lain. Dari perjalanan mereka akhirnya dirumuskanlah sebuah konsep baru tentang pembiayaan pendidikan dengan mempertimbangkan penghasilan orang tua. Range biaya semesteran pun tidak dibuat flat seperti tahun sebelumnya, tetapi menggunakan perkiraan antara 100 ribu hingga 5 juta untuk sosial dan 100 ribu hingga 7,5 juta untuk yang eksakta. Besaran SPP semesteran mahasiswa tersebut ditentukan dengan penghasilan orang tua, tanggungan hutang dan hal-hal menyangkut kondisi ekonomi yang dibuktikan dengan berkas-berkas valid yang dikumpulkan mahasiswa.

Sistem ini awalnya masih tetap didemo mahasiswa karena banyak SPP mahasiswa yang mengalami kenaikan sebagai konseskuensi sistem ini jika ia dari keluarga mampu. Tetapi bagi mahasiswa yang kurang mampu hal ini menjadi angin segar karena biaya mereka menjadi turun. Dan begitulah ketika sistem diujicobakan, hingga akhirnya mendapat penerimaan mahasiswa. Ketika kebijakan UKT digulirkan, maka di UI sudah tidak lagi ada masalah karena sistemnya sudah lebih mapan dan lebih baik.

Masalah yang timbul sekarang adalah di universitas-universitas lain yang mendapatkan kebijakan baru itu. Banyak kisah bahwa UKT membuat biaya kuliah semakin mahal, tak terkecuali di kampusku. Bahkan adik-adik tingkatku harus merogoh kocek lebih dari tiga kali lipat biaya semesteranku. Itulah kenapa aku masih nyaman-nyaman saja hingga semester tua ini. Karena aku sendiri masih menikmati status sebagai mahasiswa.

Dan acara inspiratif hari ini pun berakhir dengan berbagai tanda tanya. Ah, tanyaku tak harus terjawab hari ini. Karena boleh jadi akulah yang harus menjawab itu sendiri di kemudian hari nanti.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.