Setelah mengalami kelelahan semalam karena sebuah diskusi yang teramat panjang hingga tertidur, pagi ini aku mengalami hal yang menyedihkan. Oh, tahun baru yang harus kumulai dengan kekonyolan tingkat dewa. Tak bisa kuceritakan, tetapi hal ini sungguh membuatku merasa Geje karena tidak bisa menyambut tahun baru ini dengan sebuah harapan dan sikap yang paling baik. Ahlan wa sahlan ya Syahrul Muharram. Bulam mulia yang sangat dihormati.

Hari ini adalah jadwal penuh sehari untuk kegiatan Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa). Aku mendapat tugas untuk mengurus tempat dan peralatan selama acara. Ah, lagi-lagi aku terlambat gara-gara aktivitas konyol tadi. Banyak waktu yang tidak optimal pagi ini. Kasihan salah seorang temanku yang udah disiplin datang paling awal dan mengabari kami. Ah, jadi malu rasanya. Maaf ya Agus ya. Maaf.

Agar Tulisan Lebih Hidup

Agenda pertama training hari ini adalah training Jurnalistik bersama sang suhu, Pak Yusuf Maulana. Guru jurnalistikku yang menurutku sangat kritis dan pandai memainkan kata untuk mempercantik argumentasinya. Terbukti tulisan-tulisan di web pribadinya terasa begitu bernas dan inspiratif. Meskipun terkadang mengundang debat ataupun diskusi panjang dikalangan pembaca yang bertolak belakang konsep berpikirnya. Tapi aku suka dengan karakter beliau dan karakter beliau mendidik kami.

Anda akan BELAJAR LEBIH BANYAK dari umpan balik lewat PENULISAN ULANG.

Demikian kata pertama mengawali training jurnalistik untuk yang kesekian kalinya sekaligus sebagai training terakhir yang diberikan oleh manajemen pusat beastudi Indonesia. Ada sebuah spirit baru bagaimana sebenarnya menulis itu sebenarnya proses belajar yang sangat baik, proses belajar bagaimana menata kata dan argumentasi. Belajar bagaimana mendengar dan bersikap lapang dada. Dan belajar bagaimana tegas dan terang dalam bersikap. Sebuah pembuka agar semangat menulis itu senantiasa hidup.

Bagaimana agar tulisan kita menjadi hidup? Tidak setiap hal itu harus mewah dan megah. Bahkan ternyata mengawali tulisan itu tidak perlu dari sebuah pemikiran yang muluk. Mari kita berbuat secara sederhana. Tulislah apa yang ada di kepala kita. Alirkan ia dalam tulisan yang disertai luapan emosi jiwa yang sesungguhnya. Tanpa sebuah perasaan yang dalam ketika menulis, maka apa yang tertera itu akan terasa hambar dan tidak memiliki daya tarik. Gunakan bahasa hidup kita, jangan menjadi orang lain dalam merangkai kata, apa lagi menggunakan kata orang lain. Berbahasalah seperti biasa seperti setiap harinya kita berkata.

Bagaimana karakter tulisan yang hidup? Tulisan yang hidup itu inspiratif, menggugah jiwa untuk bergerak. Tulisan yang hidup itu mudah dipahami dan diikuti. Semua yang membaca akan tersentuh pemahamannya dan akan terketuk hatinya. Hal ini tentu karena kita memahami bahwa menulis itu adalah panggilan jiwa, sedekah untuk sesama. Alasan mendasar inilah yang akan membuat kita selalu penuh dedikasi ketika menorehkan tulisan.

Apa bekal yang perlu dimiliki? Dalam menghasilkan tulisan yang indah namun sederhana. Penting sekali kita menera dan mengkaji kembali isi dari tesaurus bahasa dan kalimat-kalimat hikmah dari para bijak bestari baik berupa puisi, peribahasa atau yang sejenisnya. Dengan kita sering berinteraksi dengan beberapa hal penting ini, kita akan terbiasa untuk menyajikan bahasa yang indah lagi baik. Sehingga akan membuat orang yang membaca itu menikmati aliran gagasan kita.

Tulislah segala hal yang kita yakini benar. Mantaplah untuk semua itu, tak usah banyak bersangka akan didebat atau pun dilibas orang lain. Belum menulis udah berpikir yang tidak-tidak, hindari hal ini. Dan pastikan, bahwa kita menulis itu karena kita mencintai setiap hal yang baik sebagai anugerah Allah. Maka jangan pernah minder dengan kazanah Islam. Karena seharusnya kita sebagai muslim mampu merevitalisasi spirit-spirit kebaikan itu sebagai bagian dari percakapan dan sikap hidup kita. Kita mencintainya dan kita bangga menggunakannya. Maka menulis itu adalah untuk menjayakan Islam kembali.

Pesan kecil untuk saudara-saudariku para cendikia muslim, mahasiswa yang juga berlabel aktivis dakwah. Mana ketajaman penamu hari ini? Memang kita tidak semua harus menjadi penulis, tetapi status kita hari ini mengharuskan kita menetapi jalan para intelektual. Sudahkah kita bersedekah untuk sebuah kalimat indah nan lurus kepada saudara kita yang lain hari ini? Dan inilah bentuk hijrah pemikiran kita menuju insan cendikia yang memegang teguh janji sebagai intelektual muslim.

Dan berakhirlah training jurnalistik hari ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.