Hari ketiga masa persiapan menuju pedalaman Kalimantan. Suasana pagi ini berbeda karena kami baru saja bangun kesiangan karena kecapekan setelah menikmati suasana kemacetan parah di Parung demi membeli oleh-oleh untuk adik-adik di tempat nun juah di sana. Sedikit lesu, meskipun aku menangkap hikmah bahwa berada di atas angkot yang merayap itu ternyata lebih melelahkan dari pada kebut-kebutan di jalan saat mendaki Tawang Mangu.

Ini adalah hari terakhir kami di Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa sebelum Senin (7/10/2013) dini hari kami meluncur ke bandara Soekarno-Hatta menuju daerah penempatan kami masing-masing saat subuh hari. Acara hari ini adalah pleno untuk program sosial yang telah kami perbaiki. Pleno ini ini adalah bentuk Acc dari pihak Beastudi Indonesia yang membiayai perjalanan kami. Dengan evaluasi ulang dari supervisor dan salah satu petinggi Beastudi Indonesia akhirnya seluruh program kami mendapatkan persetujuan hari itu. Lega rasanya! Tinggal kami memberikan bukti di daerah penempatan nanti.

Siangnya, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah makan unik di kawasan Depok. Di sana, rekan-rekan Bakti Nusa angkatan 3 dari UI dan IPB telah menanti untuk mengikuti training jurnalistik yang dimentori oleh salah satu orang kunci di dapur redaksi Republika. Kami mengikuti training itu juga untuk mendapatkan pelajaran tentang penyusunan diary selama magang dalam konsep features yang tahan lama. Di samping itu, beliau juga berbagi hal-hal penting tentang pengalamannya di dunia penulisan dan media. Hemm, beda banget ketika kita hanya mendengarkan penjelasan akademisi yang tidak terjun langsung dalam dunianya. Dan belajar kepada praktisi itu ternyata lebih mudah dicerna, apalagi jika praktisi tersebut sekaligus akademisi.

Dua pengalaman hari ini adalah bekal terakhir kami untuk melihat lebih luas tentang negeri ini. Membaca Indonesia dalam optimisme dan mimpi besar di masa depan. Dan perjalanan pulang kami pun ditutup dengan hujan yang sangat deras. Benarlah cerita temanku bahwa kotanya ini adalah kota hujan, yang bagiku hujannya jauh lebih WOW karena baru dua hari saja aku melihat guyuran air begitu melimpah di saat tanah kelahiranku tengah kering karena kemarau. Dan hari ini kami pun bersiap untuk perjalana esok hari.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.