Tulislah idealismemu hari ini, biar orang lain membacanya, karena boleh jadi suatu saat orang akan mengingatkanmu kembali dengan tulisan itu ketika engkau telah berbelok arah. (Ardika, 2012)

Hemm, tiba-tiba pagi ini aku ingin menulis tentang mengapa harus menulis. Mengapa ya? Karena mungkin aku hanya menulis sesukaku dan sesubyektifku saja akhirnya ku beri keterangan angka 1 deh. Barangkali nanti ada kelanjutannya. Ahaa.

Mengapa harus menulis? Aku sangat terkesan dengan beberapa rekan yang sangat suka dengan menulis khususnya mereka yang di FLP, yang aku kenal gara-gara baca AAC-nya kang Abik hingga akhirnya dulu sempat ingin ikut FLP juga. Tapi ga jadi. Nah, di kampus ini aku ternyata melihat salah satu sosok penulis itu. Teman seperjuangan lagi di sebuah organisasi. Tulisannya keren-keren dah, dalam dan berkualitas. Jauh lah kalo dibandingkan dengan tulisan-tulisan di blog-ku ini yang masih newbi (alias nyobi2 saja). Mau tau, menluncur aja ke sini!

Mengapa harus menulis? Aku terkesan dengan salah satu guruku yang luar biasa (tapi sekarang beliau telah wafat). Seorang guru sejati yang mendarmabaktikan hidupnya untuk mendidik dan berdakwah. Beliaulah allahyarham K. H. Muh. Hussein. Seorang aktivis yang tetap aktif hingga usianya 80 tahun. Tak kenal sakit-sakitan, tetap fasih melafazkan kalam-Nya, dan tetap rajin menulis pesan-pesan dakwah dengan mesin ketik tuanya setiap pagi. Seorang ulama panutan masyarakat Gunungkidul yang mampu menjadi penengah dan pemersatu dari dua ormas terbesar di sana.

Mengapa harus menulis? Aku terkesan dengan perkataan salah seorang sahabatku. Jika engkau ingin beban dan segala perasaanmu terlerai, tumpahkanlah. Bahkan jika engkau sedang mencintai, maka tuliskanlah, itu akan membuatmu lega dan puas. Yah, mengungkapkan cinta itu kan hal yang luar biasa. Terlebih jika kita sedang mabuk cinta oleh kebesaran-Nya. Bukan terjebak dalam cinta picisan yang menipu itu.

Dan lagi-lagi mengapa harus menulis? Aku ingin bilang. Saat kita masih menjadi mahasiswa seperti saat ini. Banyak nilai idealisme-idealisme yang bersemayam dalam diri kita. Kita akan bisa berkata dengan lantang untuk melakukan pembelaan atas nilai-nilai kebenaran yang direndahkan. Nilai-nilai keadilan yang dikebiri. Dan penindasan kemerdekaan oleh kezaliman. Kita masih bisa berteriak lantang. Tapi siapakah yang bisa menjamin kita untuk 5 tahun, 10 tahun atau sekian tahun yang akan datang. Maka barangkali tulisan kita hari ini adalah sarana ikhtiar kita agar Allah kelak mengingatkan kita melalui orang-orang yang Dia kirimkan untuk kita. Tak inginkah itu? Bukankah itu sebaik-baik nikmat yang lebih kita butuhkan ketika kita berada dalam tepi jurang kealpaan. Semoga kita mau menulis! Dan mari kita mulai menulis!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.