Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi SIM. Sebuah mekanisme perekrutan baru diterapkan. Sebuah wahana pembentukan kader keilmiahan yang senyatanya mulai diterapkan. Meski sang ketua panitia dan beberapa magangers melanglang buana ke ibukota negara untuk belajar menjadi pemimpin, dan sekretarisnya juga tengah final ke Brawijaya, acara tetap berjalan dengan dukungan kuat adik-adik panitia yang luar biasa.

Lagi Lagi Pak Tanto

Ibarat sebuah tradisi, sepertinya hadirnya SIM UNS ini tak pernah terlepas dari sosok yang bernama Dr. Sutanto, S. Si., DEA. Seorang doktor lulusan Perancis yang sangat inspiratif dan penuh kejutan. Yah, karena beliau adalah guru out of the box bagi SIM. Pagi ini beliau pun membuat berbagai keterkejutan intelektual kepada kami dan adik-adik yang masih segar untuk menjadi sejarah baru bagi UKM yang baru akan berusia 2 tahun ini.

Karena hari ini adalah hari pahlawan, beliau memulai materinya dengan foto pembantaian masal para serdadu belanda yang diabadikan oleh salah satu tentara yang terlibat di sana dan ditampilkan kembali di era ini dalam sebuah surat kabar Belanda. Apa tanggapan Indonesia? Cuek dan sepertinya tidak menarik. Beliau memberi garis bawah, jangan-jangan hari ini kita telah kehilangan kebanggaan sebagai bangsa dan kehilangan rasa cinta kepada negara.

Yang kedua beliau mengkritik tentang kebiasaan buang sampah sembarangan. Ketika beliau naik tangga beliau menjumpai bungkus Beng Beng yang tercecer. Kata beliau, orang-orang hari ini hanya peduli urusan perut dan abai terhadap urusan di luar perutnya. Kemunafikan banyak terjadi di kalangan aktivis organisasi hari ini yang hanya pandai bicara AD ART tanpa aksi nyata yang tuntas dan solutif. Sebuah tamparan halus namun sarat makna untuk sebuah contoh yang beliau tunjukkan di hadapan kami. Membuang sampah pada tempat yang benar.

Yang ketiga beliau menunjukkan gambar tentang aktivitasnya menanam kedela pada botol plastik bekas. Sebuah langkah nyata beliau sekaligus untuk menggertak apakah lahan kita memang tidak cukup lagi untuk menanam kedelai guna mencukupi kebutuhan dalam negeri sampai-sampai kita harus impor kedelai transgenik dari Amerika. Tahukah bahwa kedelai transgenik itu sebenarnya makanan untuk ternak, seperti standar yang diberlakukan di Eropa. Naif sekali Indonesia hari ini.

Kemudian beliau menunjukkan bunga La Tulip yang tengah mekar di salah satu taman di Belanda. Kata beliau, ini pembodohan yang dialami oleh orang pintar Indonesia. Hanya untuk melihat bunga La Tulip yang sebenarnya bisa ditanam di Indonesia dan bahkan bisa lebih indah, seseorang harus mengeluarkan belasan juta untuk ke Belanda. Ini orang gila dan sangat tidak waras. Kita bisa melakukannya jika kita mau, namun sayangnya hari ini masih sedikit orang Indonesia yang mau. Tamparan berikutnya yang semakin menyesakkan dada jika memang kita hari ini sudah merasa sebagai mahasiswa. Bagi yang tidak peka, ya mungkin diragukan status kemahasiswaannya.

Yang menarik berikutnya adalah kisah beliau setiap Sabtu-Ahad di kampus. Beliau merasa menjadi manusia biasa ketika di dua hari itu. Bisa menyapu dan menikmati alam di kampus. Seorang doktor Indonesia mau menyapu hari ini seperti mimpi, tapi ini nyata. Hingga beliau membuat ancaman kepada mahasiswanya yang kedapatan membuang sampah sembarangan dan tertangkap tangan dijamin tidak akan diluluskan dan sebaiknya segera pindah kampus saja. Hari ini, masih ada dosen yang peduli lingkungan, aku akan menjadi pendukungnya.

Tak cukup sampai di situ. Ketika seminar usai dan saatnya penyerahan vandle, apa yang beliau lakukan? Beliau berkata, “untuk saya kan, saya ambil sendiri saja dan kita berfoto bersama”. Kata adik saya beliau jayus banget, tapi itulah adanya. Keteladanan sebagai seorang yang tidak mementingkan sisi formalitas, tetapi menunjukkan aksi-aksi nyata yang bermanfaat.

Tulisanku ini tak bermaksud melebihkan beliau, tetapi itulah kenyataan bahwa hari ini aku masih menemukan guru-guru yang sangat idealis. Yah, pemuda hari ini butuh banyak belajar dari para guru yang memegang kuat idealismenya, atau ia akan menjadi munafik di masa-masa pembentukan karakternya. Terima kasih Pak.

Dan acara berikutnya terus dilanjutkan oleh para pembicara yang inspiratif. Ada bara semangat yang muncuk di hati adik-adik. Adik-adik yang diharapkan akan menjadi sejarah baru pelurusan gerak organisasi keilmiahan ini. Organisasi yang akan mewujudkan riset dan perkawinan ilmu ketika para dosen hanya sibuk berkutat pada teori membosankan dan ketinggalan jaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.