Sebaik baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR  Bukhari)

Itulah seuntai sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, sang muallim, sang juru selamat umat manusia tentang orang-orang yang mau berinteraksi dengan al-Quran. Siapa yang mengaku Islam dan mencintai Allah, maka berinteraksi dengan al-Quran sudah bukan lagi hal yang harus ditegakkan dengan pedang, melainkan sebagai kesadaran pribadi dan kebutuhan akan pentingnya bersanding dengan kitabullah.

Sore ini, adalah pertemuan kali kedua pembelajaran tahsin edisi pasca lebaran. Sedih rasanya tidak ikut tahsin yang pertama karena sudah bersamaan dengan amanah yang lain sedangkan pemberitahuannya cukup mendadak. Maka sore ini aku bersemangat untuk datang dan meninggalkan pertemuan adik-adik SIM yang akan membahas penyambutan maru 2012. Ternyata dan ternyata, aku adalah orang kedua yang datang di masjid dan peserta pertama yang datang. Yah, ustadz Khalid sudah stand by dan sayangnya murid-murid tahsin yang seharusnya ada 15 orang tak satupun kelihatan batang hidungnya.

Istiqomah dalam Belajar itu Mahal Harganya

Terlepas dari apa pun alasannya, mempelajari al-Quran itu adalah sesuatu yang agung. Jika karena kesibukan kemudian kita meninggalkannya dan tidak berupaya mencari waktu pengganti yang lain maka bukankah sebenarnya kita menyia-nyiakan pahala yang besar. Dan peristiwa hari ini adalah bukti bahwa menjaga keistiqomahan dalam belajar terhadap salah satu bagian penting agama ini sangat mahal harganya, alias sangat sulit dijalankan. Jika dalam urusan kitabullah saja sulit, sudah dapat dipastikan mempelajari ushul aqidah, ushul fiqih, mustholahul hadits, dasar-dasar ulumut tafsir pasti makin tidak mungkin bisa istiqomah. Dan perkataan ini adalah untuk menampar pipi penulis sendiri yang masih suka bermain-main terhadap perkara agama ini. Rabbighfirliy, rabbighfirliy .

Meskipun demikian, akhirnya ustadz Khalid langsung mengajak saya talaqqi. Seperti biasa, beliau mentalqin dan aku mengikuti. Ha ha, baru surat al-Fatihah saja udah belepotan, harus diulang-ulang sampai puas. Yah puas, karena baru kali ini aku bisa belajar intens dalam membaca kitabullah yang baik dan benar. Semoga kelak bisa lulus dengan predikat yang memuaskan, terutama bagi yang sedang menjalani ini.

Diskusi Santai Tentang Belajar

Setelah dirasa cukup talaqqi privatnya. Aku berkonsultasi banyak hal mulai dari rencana studi adikku hingga masalah pribadiku. Aku punya adik yang sekarang di salah satu sekolah Muhammadiyah di Jogja, tepatnya di Madrasah Muallimin Muhammadiyah (M3), tempat bersejarah hasil perjuangan KH. Ahmad Dahlan. Sesuai dengan pilihannya terakhir, dia ingin fokus mendalami agama ke depannya. Alhamdulillah, meskipun kakaknya tersesat di sekolah negeri nan sekuler, ternyata harapan kakaknya ini terjawab dengan keinginan sang Yusuf untuk mengembara dan mencari ilmu dien ini.

Kata ustadz, adikku diminta menguatkan dua hal, matematika dan bahasa Arab. Kemampuan matematika yang baik menunjukkan bahwa nalarnya akan matang dan mampu memahami banyak hal. Kemampuan bahasa Arab yang baik akan memudahkannya menerima pelajaran jika nanti melanjutkan ke jenjang Aliyah yang tepat untuk persiapan menuju LIPIA atau universitas-universitas Islam di Timur Tengah. Adikku terobsesi seperti guru bahasa Arabnya yang lulusan Madinah. Aku ikut senang dan membayang-bayangkan jika bisa berkunjung ke Haramain itu nantinya.

Setelah berkonsultasi masalaha yang lain, akhirnya pembicaraan kami berakhir setelah waktu menunjukkan pukul 17.00. Dan kami siap melanjutkan aktivitas yang lain. Sebuah sore yang bermanfaat dan inspiratif.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.