Marah Besar

Siang harinya waktu kuhabiskan untuk tidur karena hari ini begitu panas. Barangkali kisah musim panas yang terjadi di Eropa sehingga orang-orang sana cenderung untuk buka baju. Sampai-sampai ke mana-mana juga hanya memakai pakaian mini. Di ruang tamu rumah ini, kami pun melakukan hal yang sama seperti umumnya penduduk sini ketika menghabiskan siang mereka. Aku pun tertidur hingga matahari mulai merundukkan dirinya.

 

Sebuah kejadian yang tak pernah kuperhitungkan sore ini pun terjadi. Sejak kami tinggal di Samburakat ini, kami selalu diikuti dua orang yang unik. Pertama, putra sulung dari tetangga sebelah yang sering konser itu. Kedua, temannya si sulung yang hobi dengan ayam. Si sulung adalah seorang yang sedang tergila-gila dengan laptop kawanku, maka sudah jelas bahwa kedatangannya adalah untuk meminjam laptop demi bisa mengetik. Sedangkan yang kedua tidak jelas apa yang akan dilakukannya. Yang jelas saat di sekolah, si penyuka ayam tadi tidak terlalu berminat untuk bersekolah, apalagi belajar.

Dan hari ini dia membuatku marah besar dengan mengganggu ayam-ayam Pak Darwis. Dan sepertinya ekspresi kemarahanku hari ini menakutkan di mata mereka meskipun aku sendiri merasa itu masih taraf biasa dibandingkan beberapa bulan lalu terakhir aku marah besar kepada beberapa orang di organisasiku. Kedua orang itu pun pulang dengan murung usai menerima ceramah panjangku. Temanku pun sampai mengatakan kecewa padaku atas kegalakanku hari ini. Ya, aku terima masukannya karena kondisiku yang sedang bangun tidur itu. Tak ada guna aku membela diri, marah ya tetap salah.

Tapi sudahlah, semua sudah terjadi dan semoga mereka juga tidak membuat ulah lagi mengingat reputasi mereka di masyarakat juga sudah terkenal sebagai anak yang suka membuat onar. Mungkin bukan salah mereka, karena orang tua mereka yang juga bermasalah barangkali beresonansi pada perkembangan mereka.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.