Tanggal 1 Mei sekarang seolah-olah menjadi hari rayanya kaum buruh se-dunia. Tak terkecuali Indonesia. Bahkan di tayangan NHK World Channel, pemberitaan seputar hari buruh, demo buruh Indonesia menjadi pemberitaan yang heboh. Ibu kota yang memang sudah padat dan macet, diserbu hampir 150-ribu buruh. Entah apa yang dipikirkan mereka, mau-maunya berpanas-panas ria dan nglibur kerja. Iya nglibur, karena kalau bolos kok rame-rame gini, sampe-sampe hari itu diliburkan untuk kerja.

May Day, begitu istilah yang baru-baru ini muncul (menurut versiku) untuk menamai hari buruh itu, ternyata memunculkan banyak sisi negatif bagi warga ibukota. Entah apa yang ada di benak ratusan ribu orang tersebut menghabiskan waktu seharian untuk menimbulkan berbagai masalah kemacetan di ibukota, merusak taman-taman yang baru saja diperbaiki oleh pemerintah Provinsi.

Tiba-tiba aku merasakan ada korelasi hari itu dengan sesuatu yang menakutkan. Maka tiba-tiba aku teringat dengan kosa kata jawa medeni artinya menakutkan. Jadilah May Day itu sesuatu yang medeni alias menakutkan. Mengapa menakutkan? Dalam analisisku, saat ini kaum buruh adalah kaum yang paling berpotensi untuk dikendalikan berbagai kepentingan asing. Buruh hari ini memiliki persepsi yang sangat buruk karena karakter mereka yang relatif tidak bermutu dengan berbagai aksi mereka yang mudah demo dan tuntutan-tuntutan mereka yang menunjukkan bagaimana rendahnya kualitas sikap mereka. Terlepas mereka apakah kaum terdidik atau hanya kuli tapi sikap-sikap yang muncul selama ini cenderung menunjukkan adanya spesies baru yang rakus, ga jauh beda dengan bosnya, pengusaha.

Aku tidak percaya bahwa buruh hari ini kurang sejahtera. Mental hidup miskinlah yang membuat mereka merasa kurang sejahtera. Studi kasus local untuk masyarakat di daerahku yang memang mayoritas menjadi urban di kota ternyata mereka mampu meraup gaji yang tinggi dan selalu pamer hal-hal yang baru ketika lebaran. Yang dulu di desa tidak dikenal, tiap lebaran tak ubahnya ajang pameran hal-hal yang baru, hedon dan justru membuat kalangan masyarakat desa yang awalnya unyu-unyu ketularan. Ujung-ujungnya kalau anak mereka tidak sukses di kota, dan memilih tinggal di desa dianggap tidak sukses. Kalau sudah begini, Wow banget kan.

Ketika arus kapitalisme semakin deras menyerang negeri ini. Kerakusan dan ketamakan materi tidak hanya menyerang jiwa para pengusaha saja, tetapi para buruh pun ikut-ikutan karena gaya hidup yang ditawarkan di kota mendorong mereka untuk hedonis. Mungkin tak semua, tapi skema kapitalisme ini akan semakin menjadikanku takut pada bulan Mei. May Day is medeni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.