Selamat Datang di Berau

Lagi-lagi kami bosan untuk menunggu. Jam 9.30 WITA tadi kami sudah mendarat di Bandara Sepinggan. Dan lagi-lagi transit kami memakan waktu yang lama, karena jam 14.30 WITA pesawat yang akan membawa ke Berau baru berangkat. Aku berspekulasi bahwa itu pesawat kecil yang akan menjadi pengalaman baruku.

Ternyata dugaanku salah. Setelah menjalani rasa bosan, menemani kawanku menikmati makanan bandara yang harganya menjulang, hingga melawan dingin di ruang tunggu ber-AC laksana musim dingin itu, kami pun keluar menaiki pesawat Boeing 737. Aih, ternyata Berau bukan tempat terpencil seperti yang kukira. Dan ketika disebut nama Berau, maka disebut pula nama Derawan. Bukankah itu wisata pantai yang memesona hingga akhirnya digelarlah Festival Derawan 2013 kemarin. Wow, tidak menyangka. Akankah aku ke sana? Nanti dulu, aku dikirim ke sini bukan untuk itu.

Dalam perjalanan yang singkat itu, aku melihat pemandangan mengerikan dari balik awan. Kawasan hutan lebat dengan beberapa cekungan gundul yang merupakan area tambang. Memanglah Berau itu kawasan tambang. Tambang apa? Aku tidak tahu pastinya. Tapi kata orang banyak tambang batu bara di sana. Semakin dekat semakin kulihat kontradiksi itu. Ada hutan lebat yang sangat seram sekaligus ada kawasan yang begitu gundul akibat aktivitas penambangan. Dan dalam suasana kontradiktif itu, pesawat pun mendarat mulus di bandara Kalimarau, sebuah bandara kecil namun bertaraf internasional yang desain arsitekturnya modern di pinggir kota Berau. Kanan kirinya hanyalah warna hijua dengan pemandangan hutan lebat yang menyeramkan.

Di gerbang kedatangan, mas Baihaqi yang menjadi pendamping daerah itu menjemput kami dengan seseorang berseragam PNS. Rupanya kami seperti tamu spesial sampai-sampai kami menaiki Toyota Rush milik bapak PNS yang pendiam itu menjelajah jalan-jalan di Berau dan menyisir pinggiran hutan yang sebagian mulai gundul. Tampak pula rumah-rumah kayu yang berdiri sangat tidak teratur dengan berbagai aksesorinya.

Memang ini kawasan pedalaman, tetapi jangan pernah berpikir pedalaman seperti suku-suku primitif. Rumah-rumah seperti berdiri semaunya, tanpa aturan, dan tanpa batas-batas pekarangan seperti di Jawa, tempatku tinggal. Ada mobil atau sepeda motor bagus terparkir di depannya. Ternyata aku melihat ironi di pedalaman bagaimana gaya hidup orang-orang ini jauh lebih modern di banding dengan tanah kelahiranku. Entahlah, itu hanya yang terlihat oleh mataku. Aku memilih diam dulu sebelum akhirnya aku berencana menghujani pertanyaan sebanyak-banyaknya ketika berdiskusi dengan mas Baihaqi nanti.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.