Kejutan di Malam Pertama

Dan pertama kali aku singgah di kos beliau, maka suasana berbeda pun kami dapati. Memang ini sebuah tantangan. Ruangan kecil dengan atap seng membuat kami terpanggang. Tapi setidaknya kami tidak jadi gelandangan. Beliau dengan baik hati mau menampung kami. Mungkin kami akan memutuskan tinggal di sini dan membantu sewa bulanannya atau ketika kami mendapat tempat tinggal baru kami bisa saja berpindah dari sini. Tak ada warung orang jual makanan. Kata beliau, warung-warung makan adanya 12 km dari sini. Gila kan. Dan sore ini kami membuat cerita baru, cari makan. Dengan motor yang dimilikinya, kami berdua dibonceng menuju pasar kabupaten, pasar Adji Dilayas.

Ini memang kota kosong, penduduknya sangat jarang. Tapi ketika aku berhenti di pinggir pasarnya, aku hanya ternganga melihat bangunan pasar tradisional yang berasa mall. Kata mas Baihaqi, pemerintah daerah sini melarang berdirinya –mart kecil yang sering kita jumpai di kota-kota. Banyak kios-kios yang dibangun dengan desain modern seperti gaya Eropa. Tapi lagi-lagi sepi dan tutup. Entah memang karena belum ada yang menyewa atau karena tutup. Tapi kok sore-sore sudah tutup.

Dan baru saja kami menikmati ayam goreng dari pedagang Lamongan di lapak PKL-nya, warung Dennis namanya. Hujan gerimis pun mengguyur kawasan pasar itu. Kami lanjutkan dengan shalat maghrib sembari berharap hujan reda. Tapi kata mas Baihaqi, ini tidak akan reda kecuali besok pagi. Maka inilah kejutan pertama kami hari ini yang belum hilang rasa capeknya. Perjalanan pulang kami menyusuri jalan pinggir hutan dan meliuk-liuk seperti ular dengan suasana gelap karena mati lampu pun dimulai. Sesekali petir menyambar dengan hujan yang sangat deras. Mengerikan sekali.

Aku semakin basah kuyup karena sepanjang jalan bukannya reda malah hujannya semakin kencang. Ini seperti hujan lebat di kawasan Bogor. Dan lagi-lagi kawasan hutan hujan tropis ini tidak memberlakukan lagi musim hujan dan kemarau untuk wilayahnya. Hari pertama menjadi kejutan bagi kami yang belum sembuh kembungnya akibat kedinginan AC. Kali ini kami menggigil karena sapaan hujan di hutan Kalimantan. Luar biasa! Masih belum puas. Sepanjang perjalanan hingga kami di kosan, semua dalam keadaan gelap gulita, karena setiap kali hujan PLN melakukan pemadaman serentak, kecuali mereka yang memiliki genset sendiri. mantap kan! Inilah pertualangan pertama kami hari ini. Demi sesuap nasi, eh maksud kami demi sepirin makan malam kami.

Bagaimana dengan besok?

bersambung ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.