Pulang Pagi & Pintu Kelas Terkunci

Sedianya hari ini aku menggantikan Pak Dawis, guru PAI yang memberi tempat tinggal untuk kami. Jadwalnya hari ini adalah mengajar pelajaran PAI di kelas VI. Menurut jadwal, aku akan mengisi saat jam 10.05 nanti. Tapi alangkah terkejutnya saat waktu belum menunjukkan pukul 10, hampir seluruh kelas telah pulang lebih awal. What? Aku hanya tercengang dengan fenomena nyata ini. Sekolah yang mudah memulangkan siswanya saat banyak keperluan bersama para gurunya. Aku bisa berkata demikian karena apa yang terjadi hari ini adalah apa yang sering terjadi di waktu sebelumnya berdasarkan cerita pendamping sekolah. Ironi kesekian yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.

Akhirnya kami yang sudah datang pagi-pagi ke sekolah dengan serangkaian persiapan itu pulang dengan tangan hampa. Kami menunggu waktu siang untuk memberikan les matematika dan kaligrafi sebagai lanjutan program kami selama di sini. Di teriknya matahari yang luar biasa panas di tengah suasana puasa Arafah yang kami jalani tanpa sahur akibat bangun saat azan subuh tadi pagi membuat kami berjalan malas ke sekolah lagi. Ternyata hanya kami para pendatang dan segelintir warga yang menjalankan ibadah sunnah itu. Siang yang terik itu pun membuat kami serasa bekerja berat meskipun sejatinya kami hanya jalan kaki 500 m ke sekolah.

Dan ternyata, pintu kelas masih tertutup semua. Menghubungi penjaga sekolah katanya kuncinya dibawa kepala sekolah. Menghubungi kepala sekolah tak kunjung dibalas. Aih, ini nasib malang kedua kami. Ya sudahlah, akhirnya anak-anak yang antusias itu kami ajak pulang ke pondokan kami. Yang ikut les matematika duduk bertebaran di kolong bawah bersama bau harum kandang ayam. Yang ikut belajar kaligrafi di teras atas dalam panggangan siang seperti di sauna. Semua berjalan dengan biasa, mereka rupanya telah akrab dengan nuansa seperti ini. Hanya kami berdua yang masih harus mengusap peluh yang terus mengalir sambil cengar-cengir karena perut sudah mulai kelaparan.

Malam Takbir yang Sunyi

Setelah sabar menanti seharian akhirnya sampailah pada waktu berbuka. Itu artinya malam 10 Dzulhijjah telah datang. Aku bersyukur atas karunia hari ini. Merasakan Idul Adha di tempat yang baru lagi setelah tahun lalu tidak kulewatkan di rumah. Tapi lagi-lagi tak kudapati keramaian takbir seperti di dusun-dusun yang pernah kurasakan di tahun-tahun lalu. Ternyata masyarakat di sini tidak memiliki tradisi bertakbir di masjidnya. Sayup-sayup kudengar takbir dari seberang sungai, masjid agung Baitul Hikmah kota Berau saja yang tetap dalam kumandang takbir itu.

Tiba-tiba malam yang memang gelap ini berubah menjadi seram dalam bayanganku. Aku tidak berminat lagi dengan begadang seperti yang kadang kulakukan di malam-malam takbir atau setidaknya sampai larut malam. Aku langsung merebahkan badan di sofa depan usai shalat isya dan menikmati makan malam yang dibuatkan oleh salah satu kerabat Pak Darwis yang ikut berlebaran di kampung kami. Oh, malam takbir yang sunyi di tepi Sungai Berau yang deras. Aku berharap, besok pagi tak ada ironi lagi yang harus kudapati di hari Idul Adha nanti.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.