Tertinggal

Hari ini aku ada rencana dengan rekan-rekan alumni untuk menengok kegiatan upgrading adik-adik SIM. Kemarin sebenarnya sudah janjian untuk berangkat pagi-pagi. Tapi rupanya kegiatan mabit yang kuikuti semalam meminta diriku untuk menambah jam tidur pada hari ini. Dengan pesan singkat, “Sory Bro, aku tepar, nek gelem mangkat jam 8an yo bareng aku, yen ora yo ngejaka kanca liya” (Maaf kawan, aku sedang kelelahan, kalau mau bersamaku berangkatnya sekitar jam 8, kalau tidak mau ya silahkan mengajak teman yang lain). Dan aku tertidur tanpa sadar.

Aku terbangun menjelang jam 8 pagi. Hemm, badannya masih malas-malasan untuk berangkat. Aku baca pesan ternyata bertumpuk. Wah, ternyata aku tadi tertidur, dan selama itu teman-teman menungguku hingga akhirnya duluan meninggalkanku. Berangkat tidak ya? Hemm, ah tetap berangkat, ini kan janji seorang senior kepada generasinya. I’ll come there. Wait me!

Aku segera mandi dan sarapan. Di tengah lezatnya menu sarapan pagi tempatnya mas Sentot, eh ada SMS masuk. “Mas, mau ke candi jamber?”. Aku salah membaca kata “jamber” menjadi “jember”, maka jawabanku sudah pasti tidak nyambung, “ya”. Meski tidak nyambung SMS-an tetap berlangsung hingga terjadi kesepakatan bahwa aku akan nebeng dia sampai ke lokasi upgrading nanti. Dasar cowok gratisan. Setelah sempat tunggu-tungguan lama akhirnya aku dan adikku yang habis plesiran dari Thailand itu berangkat. Bismillah …..

Tersesat, Tapi Asyik

Karena sama-sama tidak tahu tempat persisnya upgrading, dan SMS ke teman-teman tidak di bales (maklum kawasan Lereng Gunung Lawu adalah daerah minim sinyal ponsel, sehingga cocok untuk melarikan diri saat stress dan ingin tidak menerima SMS, padahal cukup HP dimatikan saja sudah tidak pernah nerima SMS loh), akhirnya kami nekat berangkat. Setelah diskusi dan berbagi cerita, terutama dia yang baru pulang dari Thailand, kami memutuskan untuk ke Candi Cetho. Tempat yang sering menjadi peribadatan umat Hindu di daerah itu dan sering diziarahi oleh orang-orang yang mengharap kesuburan.

Akhirnya sampailah aku di tempat yang baru kukunjungi pertama kali ini. Setelah melewati jalan yang meliuk-liuk dan mengular akhirnya aku berhenti di sebuah tanjakan tajam. Terbentang sebuah bangunan batu yang berundak dengan bentang alam yang indah terhampar dari ketinggian itu. Masya Allah, inilah alam yang Allah anugerahkan untuk bangsa Indonesia. Sebuah keindahan yang sesungguhnya luar biasa, karena tanpa harus kita repot-repot menatanya. Tidak seperti Eropa yang keindahannya memang terjadi karena kerja keras rakyat yang menatanya.

Setelah sempat terlena sesaat dengan pemandangan alam yang teramat indah itu. Aku sadar, kedatanganku ke sini untuk mengunjungi upgrading adik-adik. Setelah tanya-tanya dengan pertanyaan yang tidak jelas, karena tidak tahu tempat pastinya, ciri-ciri kegiatannya seperti apa, dan para penjawabnya juga kebingungan akhirnya kami sadar, bahwa kami salah tempat. Ya sudahlah kita foto-foto dulu. Karena berarti tempatnya di candi satunya yang letaknya di ujung timur. Cuma dekat kok, paling 20 km aja (ha ha ha).

Setelah memuaskan hasrat kenarsisan sekaligus melihat-lihat aktivitas pasangan manusia yang kebanyakan pasangan muda (yang kemungkinan besar bukan pasangan sah) sedang melakukan aktivitas rutin pekanan mereka (kayak aku aja make istilah liqo pekanan), kami memutuskan untuk turun gunung dan naik gunung kembali. Seandainya saja ada kereta gantung tentu akan sangat cepat ketika dinaiki dan melintasi lereng gunung Lawu itu. Ha ha, kembali memacu kuda besi menuruni tanjakan yang aku memilih memejamkan mata selama menuruninya.

Sisi Lain Sukuh

Setelah kembali melewati jalan mengular yang jaraknya (hanya) sekitar 20 km, akhirnya kami kembali menaiki bukit dan kali ini kami mendapati candi yang tak kalah menarik dari yang tadi kami kunjungi. Itulah candi sukuh. Namun kami hanya berlalu sesaat, karena itu bukan tujuan kami. Kami terus naik dan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat namun indah. Katanya itu hutan rakyat, tempat rekreasi alami keluarga. Sejuk dan dingin.

Melewati gerbang wisata, ada sekelompok adik-adik mahasiswa yang tidak asing lagi bagiku. Ya mereka itulah adik-adik kesayanganku di SIM. Unik-unik mereka, terutama Shelly yang selalu lucu ekspresinya. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan hingga di tengah hutan yang banyak terdapat rumah-rumah dan fasilitas olahraganya. Dan itulah rumah singgah selama upgrading itu. Wah, meski sinyal ponsel lemot, ternyata wifinya kenceng. Ha ha, akhirnya sampai di sana aku langsung bisa online, meskipun hanya sebentar, karena setelah itu segeralah tiba waktu dzuhur.

Usai dzuhur, aku harus memberikan sebuah wejangan penting buat adik-adik. Hemm, sebenarnya udah males sih nampang-nampang gitu lagi. Tapi tidak ada pilihan, nasib senior tetap harus menjadi penyangga organisasi yang baru balita itu. Jadilah aku berkutbah di tengah terik matahari yang didengarkan oleh sekian junior yang cengar-cengir lantaran panas dan gerah, serta yang makin menghitan karena lupa pake sunblok, termasuk aku yang merasa terbakar karena malah memakai jaket saat mau tampil.

Singkat cerita, perjalanan hari ini membahagiakanku. Karena aku menikmati kelapangan perjalanan ini. Nikmat yang agung itu adalah ketika hati ini lega dan terjaga dari rasa marah, benci, apalagi kedengkian. Jika memandang kekurangan dari manusia itu, maka ibrahnya adalah kita harus belajar lebih banyak lagi, dan mengajari sebanyak-banyaknya orang yang memerlukan ilmu itu. Yah, tidak perlu ada kemarahan selagi itu bukan penghinaan atas Allah, rasul, dan agama Islam ini. Bahkan kemarahan pun tidak boleh ditampakkan dan segara dikendalikan ketika memang itu harus terjadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.