Seperti yang pernah kuceritakan beberapa hari lalu, sore ini kami berencana makan bareng dengan Reihan, gadis Mesir super cantik yang jadi topik pembicaraan kami, khususnya aku dan mas Joko. He he, maklum cowok normal.

Sore ini kami berjanji untuk bertemu di City Arkaden, mall terbesar yang ada di kota Wuppertal. Setelah beberapa waktu menunggu, muncullah gadis cantik yang selalu memukauku itu dari balik pintu. Masya Allah, beginilah adilnya Allah menempatkan mereka di negeri yang tepat. Baik orang Jerman maupun pendatang dari timur tengah sepertinya dipilihkan tempat yang baik di negeri beradab yang menjunjung tinggi hak pribadi sehingga orang-orang secantik mereka jika telah ber-Islam di negeri seperti ini maka pasti aman dan tidak akan dilecehkan seperti di negara-negara berkembang yang mayoritas muslim sekalipun.

Ternyata beliau baru saja selesai bekerja di toko buku. Kemudian kami berjalan cukup jauh menuju restoran Turki (dijamin super halal). Di perjalanan kami berdiskusi banyak hal, dan aku baru tahu ternyata dia itu gadis mesir yang terlahir di Wuppertal dan besar hingga kini, bukan gadis Turki seperti dugaanku. Yah, karena ga mau di bilang kurang kerjaan plus mungkin efek melihat kecantikan wanita yang kelewat dari biasanya, inilah yang menjadikan akal seseorang lupa dipake. Hemm, ternyata ada hikmah mengapa laki-laki harus selalu menjaga diri untuk menggunakan akalnya. Karena kalau sudah tersihir dengan wanita rasanya segala hal akan berubah dan menjadi tidak masuk akal. Ini terlepas dari masalah kecantikan atau apa pun yang menarik dari wanita. Tetapi ketika kita tidak memelihara kehormatan dan akal kita sebagai laki-laki maka wanita itu akan menjadi sumber malapetaka bagi hidup kita.

Restoran yang kami tuju ternyata seperti yang di katakan Ahmad, imam shalat Jumat yang pernah kutanyai restoran halal di Wuppertal. Beliau menuliskan alamat bahwa tempatnya dapat dijangkau dengan bus 645 berhenti di halte Karlplazt dan berjalan 200 meter di dekat itu. Yah, ternyata kesampaian juga harapan makan di restoran Islam yang suasananya sangat nyaman, apalagi yang ngajak gadis muslim secantik dia. Ha ha ha.

Begitu sampai di sana, segeralah berdatangan gadis-gadis lain temannya Reihan. Wow, ternyata banyak sekali gadis cantik di sini. Ada yang sudah punya anak kecil, aku sangat senang bisa menggodainya. Adik kecil yang lebih kecil dari adikku putri sekarang namanya Muhammad. Ku sapa dengan bahasa Arab yang ku bisa, eh masih malu-malu kucing. Aduh-aduh imutnya. Intinya malam ini ada tiga gadis cantik yang semua berdarah Mesir : Reihan yang kuliah di Wuppertal, Karima yang kuliah di Dortmund serta Iman (bukan cowok) yang kuliah di Bonn dan satu cowok ganteng, munsyid yang juga terlahir di Wuppertal dan mulai go Internasional karena sudah sering menemani Zain Bikha manggung dan terakhir pernah ke Malaysia, Abdullah Abudahab (dipanggil Budi). Dia adalah pamannya Reihan, sebenarnya usianya sepantaran dengan ku, dan Reihan itu lebih muda 2 tahun dariku (hemm, peluang! Wk wk wk).

Makan malam yang enak sekali malam ini karena aku bebas memilih menu manapun yang dijamin halal. Masalahnya juga lihat-lihat harga yang ada. He he he. Seperti biasa aku memilih pomes kesukaanku dicampur dengan daging ayam (curry) dan saus dengan minuman coklat susu. Di tengah asyiknya makan kami berdiskusi berbagai hal mulai dari kesukaan kami hingga problematika umat Islam hari ini. Kalau kutulis di sini akan panjang rasanya. Hanya aku berkesimpulan bahwa hari ini telah berdiri banyak masjid di Jerman, tetapi dalam bangunan rumah-rumah biasa dan apartemen, hanya saja belum bisa mengumandangkan adzan seperti di Indonesia (karena jumlah muslim masih tetap kecil dibandingkan dengan total penduduk Jerman, meskipun di setiap tempat menemui orang berjilbab itu bukan sesuatu hal yang sulit di sini), semua terus berusaha meyakinkan pemerintah bahwa kaum muslimin itu damai dan dapat berdampingan hidup dengan umat yang lain. Yang kedua, mari kita bertualang ke penjuru dunia untuk lebih mengenal banyak saudara muslim kita sehingga cara pandang kita terhadap Islam dan mengimplementasikan dakwah ini semakin baik, tidak radikal dan kaku karena kita tidak sedang membuat kekakuan dunia. Kita kembali pada prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.

Usai makan malam kami segera berpisah dan berharap bisa bertemu lagi ketika main ke Kebun Binatang Wuppertal. Reihan menjanjikan teman-teman yang lebih banyak lagi (kalo aku berharap ada teman-teman cowoknya juga), karena mas Budi tadi cuma bisa menemani kami sebentar. Yah, bener kan, aku tidak bercerita aneh-aneh tentang Reihan, karena tentang kecantikan dan ketertarikanku itu adalah urusan pribadiku. Yang pasti hari ini ku belajar bagaimana bersyukur dengan setiap hal yang kutemui dalam hidup. Dan Reihan menjadi salah satu inspirasi yang kutemui hari ini. Jazakillah Reihan, nice to meet you. Be a nice muslimah forever!

6 Comments

        1. ardika

          Ha ha ha, pernah baca Novelnya Habiburrahman el-Shirazy tentang Ayat-Ayat Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra, banyak deskripsi tentang kecantikan gadis Mesir, ternyata memang begini manisnya. Ha ha ha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.