Dua Jam Saja

Kami tidak punya banyak waktu lagi. Karena kami harus sampai di Wuppertal Hbf sebelum jam 3 pagi atau kami harus membeli tiket lagi karena masa berlaku tiket kami hanya sampai jam itu. Sehingga kami memutuskan untuk mengeluarkan kocek 12 euro untuk membeli tiket Berlin City Tour dan menaiki bus untuk mengelilingi kota Berlin selama 2 jam saja. Yah, padahal ingin sekali berlama-lama di situ. Tetapi apa daya, tidak ada kawan untuk menginap, harus berhemat karena nanti mimpi ke Paris butuh biaya lebih banyak lagi.

Dan hari ini hujan sehingga kami hanya dapat melihat keindahan bangunan-bangunan yang indah di kota berlin sekilas dan dalam suasana langit suram. Tetapi tidak mengapa karena bisa sampai ke Berlin adalah sebuah mimpi yang dulu pun tidak pernah terpikir caranya. Karena kami tidak ada yang membawa kamera SLR, jadinya ya foto-foto hasil jepretan kami seadanya saja. Di sini aku melihat kemegahan kota yang sangat asri, tertata dan penuh dengan keteraturan. Seperti halnya kota-kota yang lain, tidak akan pernah kita temukan kendaraan sepeda motor bebas berkeliaran di sini. Para pengunjung yang membawa mobilpun lebih suka memarkir mobilnya di ujung kota dan menaiki bus kota atau jalan kaki. Sehingga kemacetan tidak terjadi separah di Jakarta, tidak ada klakson yang saling bersahutan, semua relatif normal. Kalaupun macet itu pun tidak sampai 5 menit. Kemudian lancar lagi. Yang aku pahami di sini adalah : kotanya indah enak dipandang, orang memilih jalan kaki karena sehat, atau naik transportasi publik karena itu bukti mencintai negeri dan tidak boros energi.

Berawal dari sini (Berlin Hbf)

Inilah tempat-tempat yang kami lewati

1. Reichstag

2. Siegessäule

3. Alexanderplatz

4. Rotes Rathaus

5. Tembok Berlin

6. Brandenburg Tor

Cukuplah bus berhenti di depan Brandenburg Tor, tugu kejayaan yang akan selalu dikenang. Sebagai simbol kemegahan dan kedigdayaan bangsa Jerman. Bangsa yang tak kalah remuk di banding Indonesia pada tahun yang sama yaitu 1945. Namun mereka hari ini telah mengulang kejayaannya lagi sebagai negeri paling perkasa di Eropa karena kekuatan ekonomi dan kemampuan teknologinya. Di sana aku merenung, apa bedanya Indonesia dengan Jerman. Pernah punya kejayaan, pernah kalah perang hingga remuk. Tapi sekarang jauh sekali keadaannya. Yah, kesimpulanku sementara, memang isi kepala kita hari ini dan mungkin sejak dulu berbeda. Sehingga hasilnya hari ini pun berbeda. Aku pun mengabadikan momen yang indah ini dan berharap di kesempatan yang lain Allah memperkenankanku untuk berkunjung ke sini lagi. Terima kasih Allah, Kau telah antarkan aku di tanah impian ini.

Salah Mengeja

Setelah bus berhenti kembali di depan Berlin Hbf, kami segera berlari sekencang-kencangnya, karena jadwal kereta terdekat tinggal 10 menit lagi. Alhamdulillah akhirnya dapat juga. Karena kalo ketinggalan, kereta dengan rute yang sama baru akan datang sejam berikutnya. Atau harus ngeprin jadwal baru dengan membuat perencanaan perjalanan baru yang mungkin akan membuat kami gonta-ganti kereta lebih banyak lagi. Waktu berangkat tadi saja 6 kali ganti kereta, di perjalanan pulang ini akan ada 7 kali ganti kereta.

Di perjalanan aku lebih banyak tidur. Dan alhamdulillah setelah penat sekali kami bisa mencapai Wuppertal Hbf jam 3 pagi lebih dikit. Kami tetap nyaman karena di NRW sangat jarang terjadi pemeriksaan. Jadi kalau pun tiket kami kadaluarsa beberapa menit itu tidak masalah (mental Indonesia banget, penginnya irit). Kami sudah teler dan bener-bener lemas ketika turun dari kereta. Kalau mau jalan itu hal yang gila. Maka kami memutuskan untuk naik taksi.

Ketika di pangkalan taksi kami mengatakan “Campus Freudenberg” dengan gaya keinggis-inggrisan (padahal salah). Mereka melongo dan berpikir keras. Akhirnya kami mengulangi lagi dengan ejaan Jerman yang benar, yah akhirnya bapak sopirnya paham. Wah, taksinya keren banget, ga tahu dah jenis mobilnya, mungkin BMW, tetapi rasanya bener-bener enak banget. Hemm, cukup dengan 8.9 euro kami bisa sampai di tempat peristirahatan kami dengan nyaman. Terima kasih pak Sopir, dankeschon. Dan yang tidak pernah terlupa, terima kasih untuk Bu Nurma yang telah merelakan diri untuk berdingin ria menemani perjalanan kami. Sekian cerita hari ini.

4 Comments

  1. pursuingmydream

    Ke Berlin ga nginep ya? wah pasti cape banget dong ya, tp ya demi irit sih hehehe.

    Oktober lalu dua teman dari Indonesia, bersama saya, kami ke Melsungen, sama sptmu kami gunakan tiket akhir pekan, pergi dan pulang total naik kereta 12 jam!, padahal di Melsungen hanya 1,5 jam utk jalan2 sebentar dan berfoto2 .. tipe org Indonesia ya hehehe potret di tempat2 terkenal trus jalan lagi :D.

    1. ardika

      wk wk wk, begitulah mbak. Semoga nanti bisa kuliah di sini. Pulang,fokus ngerjain skripsi dulu mbak. Serius, trus nanti master ma doktor ke sini dah. Semoga dimudahkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.