Usai mengunjungi Prof. Barke, perjalanan selanjutnya adalah main ke apartemen Bu Nurma dan Pak Ahmad. Mereka berdua saat ini sedang kuliah di Jerman. Beliau menjanjikan kami sebuah masakan khas Indonesia, apa itu? Bakso. Yah, sudah dua pekan aku hanya makan roti, sesekali memasak nasi dan telur dadar untuk makan bersama, kalo buru-buru masak sarimi yang sempat di bawa dari Indonesia. Yang kadang membuat kami tersiksa adalah ketika makan di Mensa (kantin kampus) karena terpaksa ketika lapar di sela jam kuliah atau ketika tim prof. Tausch mengajak makan bersama. Hemm, hari ini kami akan menikmati masakan Indonesia.

Sesampai di sana, kami segera menyerbu segala makanan yang tersedia. Tak terkecuali bakso yang memang spesial dibuatkan untuk kami. Untung bu Nurma memasaknnya banyak, sehingga para pasukan pemakan yang mengerikan ini pun takluk karena kebanyakan makanan yang tersedia. Ternyata memang masakan Indonesia akan senantiasa membuat kami rindu. Indahnya salju, nikmatnya transportasi di sini, mudahnya berbelanja, dan murahnya biaya hidup (relatif dengan negara eropa lainnya) di Jerman tetap tak akan mampu mengobati rasa rindu kami dengan masakan Indonesia.

Suatu saat aku bermimpi akan tinggal di sini selama beberapa waktu bersama istriku tercinta nantinya. Yang akan selalu memasakkanku masakan khas Indonesia agar aku senantiasa ingat dengan tanah kelahiran. Entah berdiaspora atau kembali di tanah air, namun patut kita meniru China dan India yang kini mereka kokoh ekonominya karena para cendikianya memang belajar dan akhirnya berkontribusi untuk negaranya. Semoga Indonesia segera bangkit menyusul mereka.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.