Usai mengikuti perkuliahan Dr. Simone, aku segera menuju mushola untuk menunaikan shalat Ashar. Eh, ternyata bertemu lagi dengan Syaifullah, dan ada satu kawan baru lagi Husein dari Turki. Sempat berbincang kepada Syaif tentang rencana perjalananku ke Perancis nantinya. Karena dia ternyata ada ujian jadinya tidak bisa menemani perjalanan kami, padahal guide lokal itu sangat penting bagi kami yang melakukan iritisasi agar uang saku kami tetap cukup untuk menyapu daratan Eropa barat.

Hari ini agenda travellingnya adalah mengunjungi kota Cologne, tempat dimana imperium Romawi pernah berjaya di sini dengan membangun sebuah Katedral Rakasasa yang sering disebut Dom (kalau di Indonesia seperti Masjid Raya Banda Aceh atau Masjid Istiqlal). Sayangnya hari ini hujan cukup deras dan kamera yang kami bawa sangat tidak memenuhi syarat untuk mengambil gambar yang terang dan jelas. Di samping itu hawa dingin yang sangat mencekam membuat kami tidak betah berlama-lama di luar. Ketika kami berdiri di depan Katedral yang megah itu, Prof. Tausch berkata kepada kami, “tataplah lekat-lekat, dan ingatlah bahwa kalian pernah ke sini, karena belum tentu kalian akan ke sini lagi”. Setelah itu kami sempatkan untuk berfoto dengan sinterklaus manusia yang ada digerbang Christmas Market di dekat Katedral.

Karena waktu evaluasi bersama Prof. Tausch, salah satu temanku menulis “Ich haben hunger” (padahal yang benar Ich habe hunger) atau aku lapar gara-gara dia melihat pengemis waktu ke pusat kota yang menulis tulisan itu di depan kotak kecilnya, pembicaraan kami terus menyindir dia yang tengah kelaparan. Diputuskan untuk segera mencari restoran tempat makan malam kami. Ternyata ada restoran Asia di sana. Setelah bertanya mana-mana yang tidak mengandung Babi, kami segera menyerbu segala makanan yang tersedia untuk dimasukkan ke perut kami yang kelaparan dan kedinginan. Karena restoran Asia, tentu kami mengambilnya seperti di rumah sendiri, karena sistem pembayarannya juga unik, makan sepuasnya harganya 12,9 Euro kebetulan pas diskon dari harga aslinya 21,9 Euro. Sebenarnya msh tetap mahal sih, makanya malam ini kami makan sepuasnya, habis ambil lagi dan mencoba segala makanan yang ada. Karena kami juga perlu minum, akhirnya tiap kami harus membayar 14 Euro. Kalo dirupiahkan hampir 180 ribu. Gila kan. Tapi inilah, mungkin itu tetap murah karena perjalanan kami ke Cologne gratis dengan naik mobil pribadi Prof. Tausch yang bisa dipacu hampir 140 km/jam sepanjang jalan tol. Pernahkah naik BMW sekencang ini? Bahkan rasanya tetap enak dan santai, meskipun yang mengendarai seorang professor yang usianya hampir 60 tahun.

Usai dari Katedral, Prof. Tausch menunjukkan kepada kami jembatan terindah yang melintasi Sungai Rhein, tempat meninggalnya Kaisar Frederic Barbarosa. Sungai yang mungkin lebih lebar dari sungai Musi (karena aku belum pernah ke Palembang). Ketika kami melintasi jembatan yang lain, kota Cologne terlihat sangat indah dari kejauhan meskipun waktu itu hujan lebat. Segala puji bagi Allah yang telah mengantarku ke daratan Eropa ini, mungkin ini akan menjadi momentum yang tak akan pernah kulupakan.

Sepanjang perjalanan kami berbincang tentang lalu lintas. Kami membandingkan kemacetan Jakarta dengan kemacetan di Jerman. Sebenarnya di Jerman tidak selalu lancar meski di jalan tol, tetapi kemacetan yang terjadi tidak sampai dalam hitungan jam, mungkin hanya 5 – 10 menit saja. Yang menarik adalah di sini tidak ada bunyi klakson seperti di Indonesia yang biasanya dilakukan oleh para pengendara yang sudah di puncak emosinya. Di Jerman, orang sangat jarang bahkan tidak pernah membunyikan klakson, karena akan disangka orang gila atau mabuk. Namun demikian, antara Jakarta dan India, kekacauan lalu lintasnya kata beliau masih parah di India. Katanya para pengemudinya sampai bisa membuat instrumen musik dari bunyi klakson-klakson mereka. Ha ha, ada-ada saja beliau. Lumayan menghibur.

Jalan-jalan malam ini berakhir dengan rasa capek dan kedinginan yang sangat. Namun rasanya itu tidak menjadi masalah karena semua terbayar dengan keindahan Sungai Rhein dan Katedral Cologne yang megah. Terima kasih Prof. Tausch atas kebaikanmu. Segeralah aku tunaikan kewajiban tuhanku untuk shalat Maghrib dan Isya kemudian kurebahkan diri dalam doa semoga esok menjadi lebih baik. Di luar sedang hujan salju dengan indah, tetapi kami memutuskan untuk segera terlelap karena esok sebelum matahari terbit kami harus sudah sampai di kampus untuk melakukan praktikum.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.