Keberpihakan dalam politik elektoral dari para tokoh (yang disebut) ulama di tengah umat yang sedang bergaduh soal aswaja vs wahabi, Islam Arab vs Islam Nusantara, dan kondisinya tertindas secara ekonomi seperti sekarang hanya akan menambah meriah gejolak politik yang sedang berlangsung. Entah besok menjelang pilpres betapa semakin gaduhnya, mulai dari yang di medsos sampai yang […]
Gagal Paham Publik Atas Demokrasi
Adanya pemilu secara periodik ini dimaksudkan agar pergantian kekuasaan tidak harus pakai kudeta dan perang perebutan kekuasaan. Nah, di sini peran rakyat sangat menentukan. Sebagai pemilik kedaulatan tertinggi, seharusnya rakyat mengkonsolidasikan dirinya sebagai rakyat, bukan pendukung calon-calon penguasa maupun yang sedang berkuasa. Yang dukung calon-calon penguasa dan yang sedang berkuasa itu ya biar timses. Bila […]
Rakyat Bukan Pemain, Bukan Pula Supporter, Tapi Lebih Tinggi Dari Itu
Teman-teman yang jadi aktivis parpol sudah semestinya memang akan mencitrakan parpolnya dengan baik, kan sebentar lagi pemilu. Itu sudah sewajarnya, selama hal itu diikuti dengan bukti konkrit dari program partainya. Maka apapun yang dikatakannya, tidak akan pernah saya bantah. Karena sebagai rakyat, ya lebih baik menonton dan memberi keputusan untuk memercayainya atau tidak di saat […]
Musyawarah
Mengapa dalam Islam sangat dianjurkan (bahkan diwajibkan) bermusyawarah. Sebab itu untuk melatih kemampuan berpikir, berpendapat dan membiasakan sikap lapang dada menerima keputusan. Atau gentle keluar dari kesepakatan jika memang tidak sanggup. Sifat keputusan musyawarah itu mengikat mereka yang bersepakat. Makanya tidak perlu ada komando-komandoan. Sebab semua tinggal menjalankan kesepakatan. Paling satu dua orang memulai melaksanakan, […]
Rakyat Mandiri
Tanda membaiknya situasi ke depan adalah jika rakyat mulai “biasa wae” dengan segala tingkah polah para politisi. Apalagi jika rakyat mulai kreatif dan mandiri mengatasi masalah-masalah riilnya sambil mencari cara menghindari membayar pajak. Pembangunan wilayah seperti jalan kampung, instalasi air, pengelolaan sampah diurus sendiri. Kelak jika polarisasi terbentuk antara rakyat vs kapitalis, maka pemerintah juga […]
Hidup Seimbang, Tanpa Politisasi
Kehidupan menjadi indah jika semua tidak dipolitisasi. Biarkan politisi kampanye untuk menduduki kekuasaan lewat gagasannya. Budayawan tetaplah menjaga akal sehat bangsa lewat karya-karya kepujanggaannya. Para ilmuwan tetap menjaga akal sehat bangsa dengan rasionalitas dan keahliannya. Jangan semua mendadak jadi politisi. Jangan pula rakyat mendadak jadi pendukungnya si anu dan anti si anunya. Rakyat itu mestinya […]
Belajar Menjadi Rakyat
Di usia yang sudah di atas 20 tahun, kesadaran peran itu semakin muncul. Saya bisa bersuara macam-macam saat ini, karena saya berada pada kondisi bebas merdeka. Sebagai petualang yang terus belajar, saya manfaatkan saat-saat seperti ini untuk terus mengasah kepekaan logika dan realita. Berbeda jika saya jadi seorang kader parpol. Maka tidak etis menjelek-jelekkan parpol […]
Politik Selera Pasar
Cara berpolitik bagi generasi muda yang paling cepat adalah nempel di politisi senior. Cepat menanjak lho karirnya. Tenan iki. Tapi kalau mau sungguhan ya berangkat dari nol. Bangun reputasi dari bawah. Punya massa yang bersifat ideologis karena setiap hari dibina. Demikian pula cara parpol menggaet suara paling cepat adalah merekrut para “artis” sebagai caleg dan […]
Tari Perang
Mengapa di berbagai wilayah Nusantara selalu ada tari perang? Boleh jadi memang dahulu masyarakat kita adalah masyarakat petarung. Petarung itu maksudnya, mereka sangat menjunjung tinggi martabat mereka, sehingga jika kehormatan mereka direndahkan, mereka tidak takut mati untuk mempertahankannya. Bukan masyarakat yang hobi mencaploki wilayah. Itulah mengapa Nusantara ini terdiri atas ratusan wilayah kekuasaan, baik dalam […]
Demkrasi Rasa Oligarki
Tradisi demokrasi itu masih sulit diterapkan dan menjadi PR panjang bangsa kita. Peradaban kita berabad-abad dipandu kekuasaan monarki dan aristokrasi. Tradisi kebudayaan kita membentuk cara kita berpikir tidak egaliter, tetapi elitis. Itulah yang ditangkap para pendiri bangsa kita sehingga mereka merumuskan sistem kenegaraan kita dalam bentuk “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. […]





