Kehidupan menjadi indah jika semua tidak dipolitisasi. Biarkan politisi kampanye untuk menduduki kekuasaan lewat gagasannya.

Budayawan tetaplah menjaga akal sehat bangsa lewat karya-karya kepujanggaannya. Para ilmuwan tetap menjaga akal sehat bangsa dengan rasionalitas dan keahliannya.

Jangan semua mendadak jadi politisi. Jangan pula rakyat mendadak jadi pendukungnya si anu dan anti si anunya. Rakyat itu mestinya satu suara, kalau pun pemilu pilihan rakyat seharusnya tidak saling tahu. Golput pun tak masalah.

Negara yang berdemokrasi itu mensyaratkan rakyat yang kritis dan selalu mengawasi kinerja pemerintah maupun politisi oposisinya. Bukan sekedar rajin nyoblos ke TPS. Kalau pemerintah kerap berbohong, rakyatlah yang mendemonya. Kalau oposisi hanya kebanyakan cari sensasi, rakyatlah juga lah yang mendemonya.

Kalau oposisi sibuk membuat kampanye sebelum waktunya untuk menjatuhkan pemerintah yang sedang berkuasa, besok mereka jangan dipilih lagi. Jadi oposisi saja sudah begitu, apalagi jika berkuasa. Yang menyuarakan soal ganti tidaknya pemerintahan itu biar rakyat, oposisi fokus mengawal program pemerintah.

Yang tahu detil anggaran ya para oposisi yang sama-sama duduk di parlemen. Situ diberi mandat untuk mengawasi agar pemerintah tidak nyeleweng dalam menggunakan anggaran. Bukan mengeksploitasi data untuk kampanye mau gantiiin dia sebelum waktunya. Wong belum masanya kampanye. Apalagi memanfaatkan isu-isu riil masyarakat untuk menggoyang pemerintahan yang berjalan.

Yang bermasalah di negeri kita sebenarnya bukan semata-mata politisinya. Politisi itu kebanyakan ya begitu. Orientasi mereka memang kekuasaan dan segala fasilitasnya. Mereka akan menebarkan janji-janji agar dipilih. Sikap politisi kebanyakan ya memang pragmatis. Omong kosong lah sekarang masih ada politisi yang ideologis. Seideologis-ideologisnya politisi, ya tetap sering kompromi, sebab keadaan saat ini memang cukup parah.

Rakyat harus cerdas. Harus mau berkonsolidasi untuk isu-isu riil. Isu rakyat itu bukan soal politisi A baik, politisi B tidak baik. Isu yang harus diusung rakyat itu yang riil-riil dong. Masalah generasi muda bangsa yang rusak karena narkoba, belakangan juga karena “mas Bowo”, masalah sampah dan kerusakan lingkungan, masalah kerusakan kebudayaan. Semua itu riil dan harus disuarakan.

Dengan rakyat yang kompak menyuarakan masalah riil di lapangan, kelak justru politisilah yang gresek cari masalah untuk dijadikan bahan kampanye agar dipilih. Bukan seperti sekarang, politisi yang membuat isu, isunya SARA lagi. Terus kita semua disuruh bertengkar pada hal-hal absurd semacam itu. Akhirnya gara-gara kita tidak lagi fokus pada isu, tapi sibuk suka dan tidak suka pada tokoh, kita saling bertengkar.

Bertengkar semacam itu, tidak ada bedanya dengan pertengkaran dalam dunia hewan di mana mereka sibuk bertarung untuk membela kelompoknya masing-masing. Padahal manusia diberi kelebihan berupa akal pikiran. Dengan akal pikiran itu, ia bisa menelurkan argumen dan cara pandang berbeda-beda satu sama lain agar saling menyeimbangkan kehidupan.

Status ini sama sekali bukan status anti politik. Justru politik yang sehat, tunduk di bawah kuasa rakyat yang tidak sektarian. Rakyat yang sungguhan adalah rakyat yang pemikirannya berdasarkan akal sehat, bukan rakyat yang menuhankan tokoh dan berbagai klenik pencitraan.

Surakarta, 1 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.