Keberpihakan dalam politik elektoral dari para tokoh (yang disebut) ulama di tengah umat yang sedang bergaduh soal aswaja vs wahabi, Islam Arab vs Islam Nusantara, dan kondisinya tertindas secara ekonomi seperti sekarang hanya akan menambah meriah gejolak politik yang sedang berlangsung.

Entah besok menjelang pilpres betapa semakin gaduhnya, mulai dari yang di medsos sampai yang riil di lapangan. Bahkan kebencian sudah diekspresikan dalamĀ bentuk nyatanya dengan melempar tempat sampah kepada pihak yang tidak disukainya. Kalau ini dibiarkan, lama-lama bisa terjadi aksi saling balas. Kalau masif, bisa jadi konflik.

Kegilaan semacam ini sebaiknya segera dihentikan sebelum terlambat. Kita harus menyadari kenyataan bahwa umat Islam terbelenggu dalam konflik internalnya sampai-sampai untuk mencukupi kebutuhannya hanya bisa dilakukan dari mengkonsumsi produk dari para kapitalis. Potensi ekonomi umat yang besar, justru ikut menjayakan kapitalis dengan kamuflase “kapitalisme syariah”.

Kemandirian umat masih sebatas wacana sebab umat terlanjur menggantungkan harapan pada kerja pemerintah. Padahal sejak dahulu, bukankah umat Islam di Nusantara sudah biasa hidup merdeka kan. Jika perilaku pemerintah sekarang mirip filialnya AS atau Tiongkok, bukankah kita tinggal meniru nenek moyang kita yang pernah hidup di masa Hindia Belanda. Tapi gimana niru dan menapak tilas sejarah, wong perdebatan kita hingga hari ini masih berkutat pada sentimen-sentimen primordial seperti aliran keagamaan dan perkubuan politik elektoral saja kok.

Bagi umat Islam, negara itu hanya sarana kan. Kalau dengan alasan menguasai negara kita jadi bertengkar berarti ada mekanisme yang salah di sini. Bisa sistemnya yang salah, bisa diri kita yang gagal mengendalikan diri. Harusnya kita mulai bertanya, kok kita malah bertengkar kayak gini, janjane wis beres durung Islame kita. Gek-gek mung ngaku-ngaku Islam cah. Di sinilah para ulama dituntut perannya menjalankan pendidikan yang mewaraskan umat. Kalau harus disebut politik, di sinilah ruang politik tingkat tinggi para ulama.

Surakarta, 29 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.