Mengapa dalam Islam sangat dianjurkan (bahkan diwajibkan) bermusyawarah. Sebab itu untuk melatih kemampuan berpikir, berpendapat dan membiasakan sikap lapang dada menerima keputusan. Atau gentle keluar dari kesepakatan jika memang tidak sanggup.

Sifat keputusan musyawarah itu mengikat mereka yang bersepakat. Makanya tidak perlu ada komando-komandoan. Sebab semua tinggal menjalankan kesepakatan. Paling satu dua orang memulai melaksanakan, tapi nggak perlu menyuruh yang lain.

Tentu saja musyawarah yang dibangun itu secara alami, tidak bikin organisasi dulu baru ada musyawarah. Jika kita mau bepergian bertiga ya musyawarah. Bahkan bersama istri saja ya musyawarah. Apalagi dalam skala sosial yang besar.

Makanya jangan takut untuk mempertanyakan soal urusan negara ini. Ga masalah dong kita mempertanyakan kok ujug-ujug ada NKRI, di mana posisi hak dan kewajiban kita atas NKRI. Mosok ujug-ujug terima tanpa bertanya.

Kita terlalu lama hidup dalam doktrin. Bahkan fikih-fikih yang seharusnya tetap bisa dipertanyakan dan diadaptasi pun kadung dikunci dalam doktrin. Padahal lahirnya pedoman fikih itu untuk menjembatani berbagai potensi perbedaan dan memudahkan umat awam (yang kebetulan ga sempat riset soal pengamalan syariat) mengamalkan agama.

Jika agama menjadi semacam perlembagaan seperti model gereja, biara, dan kepanditaan, apa tidak berarti bahwa Islam justru sedang dikerdilkan oleh para cendekiawannya. Padahal al Quran sendiri menjelaskan agar Nabi membangun kehidupan yang egaliter sehingga umat tidak seperti orang Yahudi yang hidupnya diatur para rahib sehingga mereka cenderung menuhankan para rahib itu. Para rahib pun senang membuat karangan-karangan fatwa yang menguntungkan mereka.

Jadi, benarkah kita sekarang bermusyawarah? Kayaknya nggak. Kita lebih senang berorganisasi dan menetapkan doktrin. Setiap musyawarah digelar dikunci dengan doktrin duluan sehingga akal sehatnya dibuang. Maka tidak heran jika kita mudah berpecah belah. Sebab beda doktrin, singkirkan. Apalagi zaman kenthir ini, beda pilihan politik, bully. Betapa preketeknya. Hahaha.

Kita sekarang sedang hidup dalam doktrin kekuasaan. Hampir semua orang senang jadi ndoro dan nyuruh-nyuruh orang. Pokoknya menyenangkan bisa memperalat orang itu, apalagi mengadu domba. Lebih konyol lagi, banyak juga yang senang jadi penjilat. Njilati ndoro agar bisa mendapat berbagai keuntungan. Nggilani tenan. Hahaha.

Surakarta, 15 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.