Anomali rezim ini sepertinya bukan pada pemerintahnya, tapi pada perilaku rakyatnya.

Kalau pemerintahnya dari dulu ya begitu-begitu saja (terkecuali mungkin yang agak spesial cuma di era Gus Dur), ada kelebihannya, dan lebih banyak kekurangannya. Ada yang suka mangkrak, ada yang doyan jual aset, ada yang doyan utang dan impor.

Nah perilaku rakyatnya yang beda. Zaman Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, kritik deras dari rakyat terus mengalir kepada mereka. Para pengkritik dengan segala bahasanya, bahkan sampai si presidennya dibawakan kerbau (jelas sebuah penghinaan berat) pengkritiknya tetap aman dan terjamin. Bahkan rezim Gus Dur yang mampu melejitkan pertumbuhan ekonomi hingga bisa mengurangi hutang luar negeri pun tetap tidak luput dari kritik karena ada konflik di daerah yang belum berhasil beliau kendalikan. Para pengkritiknya terjamin aman.

Yang paling aneh itu rezim ini. Kalau dibandingkan dengan rezim Gus Dur, jelas jauh kelasnya. Dibandingkan dengan rezim-rezim pasca Gus Dur, ya mirip-mirip lah. Unggul di beberapa hal, tapi juga parah di hal-hal lainnya. Jadi ya biasa-biasa saja kan. Tapi mengapa perilaku rakyatnya tidak biasa ya. Baru rezim ini, ada rakyat yang begitu memuja dan menjadi fans berat bagi kekuasaan. Baru di rezim ini pula, ada pembelahan keberpihakan rakyat yang begitu awet bertahun-tahun. Rakyat yang melontarkan kritik pada pemerintahnya, baik dengan cara akademik hingga secara liar khas bahasa rakyat, banyak yang bernasib sial, entah digelandang polisi atau diserbu habis-habisan oleh para pendukung setia pemerintah.

Janjane apa to yang bikin rakyat malih 180 derajat di rezim ini dibandingkan dulu-dulu? Aku ra paham nganti saiki.

Surakarta, 12 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.