Paradoks Negara Republik

Negara republik yang sehat itu ditandai dengan banyaknya badan-badan otonom yang bekerja secara otomatis berdasarkan undang-undang. Nggak main instruksi-instruksian lagi. Sebab apa perintah undang-undang, ya itu dijalankan. Ada sebab, maka ada respon. Efisien. Legislatif dan eksekutif menjalankan perannya secara efisien. Legislatif aktif membangun kemitraan dengan eksekutif dalam perumusan undang-undang yang berpihak pada aspirasi rakyat dan […]

“Teken” untuk Bertahan

Kolonialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa menurut saya juga tidak mereka sadari sepenuhnya. Mereka hanya termakan doktrin tokoh-tokoh mereka sendiri tentang keunggulan ras dalam wacana antroposentrisme yang dijiwai semangat “mengumpulkan kekayaan” akibat kemelaratan yang mereka alami cukup lama. Akibat kerakusan mereka, toh akhirnya mereka menuai kehancuran ketika mengalami Perang Dunia sampai dua kali. Dengan dua kali […]

Menjajah Bangsa Sendiri

Saya mulai bisa memahami alasan Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Kerajaan Belanda hanya mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Selain Belanda ogah membayar ganti rugi perang (sebab jika mengakui 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia, berarti agresi-agresi militer Belanda adalah bentuk penyerangan kepada negara lain yang berdaulat, sehingga dengan mengakui […]

Jadi Warga Negara, Bukan Anggota Gengster

Sejak mengikuti postingan-postingan Bang Abdi Johan, saya banyak mendapat pencerahan, terutama kesadaran tentang hukum. Itulah mengapa kasus pembakaran bendera kemarin menjadi begitu sederhana di mata saya. Itu persoalan yang seharusnya sangat mudah diselesaikan dengan hukum yang sudah ada. Pengibar benderanya, oknum banser pembakar bendera, dan penyebar videonya ditangkap. Pengibar bendera diperiksa motif pengibaran benderanya. Oknum […]

Sistem Ambigu, Politisi Happy

Di negara-negara Eropa, meskipun para legislator itu dipilih dalam pemilu yang menggunakan sistem partai, kedudukan mereka setelah terpilih adalah merdeka dan tidak tunduk pada perintah (partai). Kedudukan mereka dilindungi konstitusi. Legislator itu mewakili rakyat dan menggunakan hati nuraninya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Konstitusi menjamin mereka, meskipun mereka dipecat dari partai karena tidak mengikuti kehendak partai. […]

“Melawan” LGBT

Persenggamaan ala LGBT maupun persenggamaan suami istri yang sah, pada tataran fisiknya memang sama-sama untuk mencari kepuasan seksual. Jadi pelaku LGBT kalau mau diejek dan dibantah dengan argumen yang menyangkut fisik, mereka bisa dengan enteng menjawab, “yang penting kan puas”. Selesai. Persoalan LGBT itu sebenarnya hanya efek paling terluar dari manusia yang kehilangan visi hidup […]

Meniru yang Salah Arah

Feminisme itu muncul karena perlawanan kaum perempuan terhadap tekanan kaum laki-laki di Barat, baik dalam konsep rumah tangga maupun kebudayaan. Saya tidak tahu persis motifnya, tapi intinya itu adalah sebuah reaksi atas gejala sosial yang terjadi. Anehnya, orang-orang sini ikut-ikutan mengusung feminisme melalui definisi-definisi lucu dan menurut saya cacat dan tidak konsisten. Dalam kebudayaan kita, […]

Negara versi Dengkulku

Setahu saya, negara itu eksis jika memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintah yang berdaulat, serta mendapatkan pengakuan dari negara lain. Dari keempat unsur itu, tiga unsur bersifat internal dan riil. Artinya wilayah (darat laut seisinya), rakyat (SDM dan produktivitasnya), dan pemerintah (SDM dan produktivitasnya) adalah aset riil yang dimiliki sebuah negara. Menurut wikipedia, luas wilayah darat […]

Nggak Usah Ada Pemilu 2019

Usulan agar Pak Prabowo, Pak Jokowi, Pak Sandiaga, dan Pak Ma’ruf Amin itu “pingsut” atau saling menyepakati pembagian kekuasaan misalnya sepasang jadi petinggi negara, yang sepasang lagi jadi petinggi pemerintahan dianggap lelucon, meskipun logis. Di mata kelas menengah dan kaum petualang politik yang sangat senang dengan kegaduhan, cara simpel membuat keputusan atas kekuasaan sangat dihindari. […]

Pemerintah-Isme

Pada suatu hari, saya ndengkul bersama salah seorang guru. Salah satu bahasannya adalah hilangnya proporsionalitas orang sekarang dalam berpikir, sehingga menilai berbagai hal pendekatannya ekstrim, tidak logis, apalagi realistis. Sebagai anak muda yang lagi belajar, saya mungkin sering tidak realistis, tetapi saya berusaha untuk logis, tidak pragmatis – ekstrimis. Ekstrimisme ini melahirkan konsekuensi golongan dan […]