Teman-teman yang jadi aktivis parpol sudah semestinya memang akan mencitrakan parpolnya dengan baik, kan sebentar lagi pemilu. Itu sudah sewajarnya, selama hal itu diikuti dengan bukti konkrit dari program partainya.

Maka apapun yang dikatakannya, tidak akan pernah saya bantah. Karena sebagai rakyat, ya lebih baik menonton dan memberi keputusan untuk memercayainya atau tidak di saat pemilu. Jadi janganĀ diberi cap buruk pada rakyat yang golput, sebab bisa jadi mereka yang golput memang tidak percaya pada parpol satu pun.

Yang konyol saat ini adalah rakyat sebanyak saat ini mendadak jadi aktivis parpol ilegal dan timses dadakan setiap kali ada pemilu. Entah memang karena tidak ada aturan main tertulis atau memang kita kehilangan akal sehat tentang aturan main, bahwa yang bertarung itu adalah pemain, yang menyoraki adalah para pendukung.

Di mana posisi rakyat? Ya bukan pemain, bukan pula pendukung. Rakyat itu ya menikmati permainan secara utuh dan nikmat. Rakyat tidak seharusnya sorak-sorak mendukung salah satu kubu mana pun. Karena yang diinginkan rakyat adalah permainan berjalan baik dan adil, sorak sorai pendukungnya tidak sampai merusak stadion. Dan yang penting semuanya berlangsung tertib.

Rakyat seharusnya turun tangan jika melihat permainan dipenuhi kecurangan dan para pendukungnya merusak berbagai fasilitas yang tersedia. Hari ini, mayoritas kita memilih menjadi pemain dan supporter, sebab itu paling mudah dilakukan, dari pada merawat fasilitas peradaban yang dititipkan oleh Allah kepada manusia. Karena semua ingin berebut kemenangan, maka peradaban kita saat ini sangat kacau balau. Sebab yang penting menang dan merasa paling benar. Bukan lagi mempersembahkan keindahan bagi kehidupan ini.

Bahkan, ternyata perebutan ini tidak hanya menghancurkan peradaban manusia itu sendiri, tetapi menghancurkan hewan, tumbuhan, dan merusak bumi ini. Padahal itu bukan milik manusia, hanya dititipkan untuk sementara waktu. Entah bagaimana murkanya Sang pemilik fasilitas ini melihat kebodohan yang dipelihara berlarut-larut oleh makhluk bernama manusia. Sudah bodoh, kemaki lagi. Nemen nganune.

Surakarta, 24 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.