Mengapa orang lebih cemas soal siapa yang jadi presiden ketimbang melihat sampah yang berserakan setiap hari di lingkungannya. Padahal urusan sampah itu riil di depan mata, dan kita termasuk pelaku primernya.

Atau bahkan merasa sudah beriman dan masuk syurga dengan setiap hari buang sampah di depan rumah, sedangkan dia tahu betul bahwa sampahnya itu cuma akan ditumpuk di sebuah lokasi untuk menjadi sumber masalah (bau dan penyakit) bagi masyarakat di sekitarnya. Kalau pun ada yang diambili pemulung, itu paling nggak lebih dari seperlima volumenya.

Saya kok mulai jadi mikir, bahaya demokrasi terbesar itu bukan soal salah pilih presiden, tetapi ketika masyarakat lebih percaya pada presiden ketimbang tetangga, ketua RT atau lurah desanya. Sehingga masyarakat lebih peduli pada urusan pemandatan ribuan triliun dan sumber daya tak terbatas (yang nantinya akan disalahgunakan dan dijadikan bancakan rame-rame para elit) ketimbang bicara hal riil terkait kepentingan sosialnya dalam urusan ketetanggaan dan keselamatan lingkungan yang akan diwariskan pada anak cucunya kelak.

Sebab kalau pun 50 tahun lagi negara Indonesia berjaya, tapi ketika tahun 2019 ini saja Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik nomor 2 di dunia dan negara yang cukup gencar membiarkan penggundulan hutan yang mengakibatkan perubahan iklim global, apa gunanya kejayaan sebagai negara kalau penduduknya banyak yang dikorbankan karena masalah lingkungan yang diabaikan. Lagi pula, kok saya belum pernah dengar seruan jihad mengelola sampah dan melawan perusakan lingkungan yang diikuti ribuan orang ya. Seruan jihad yang ramai massanya, mesti urusan dukung mendukung politikus yang belum tentu politikusnya itu akan menepati janji atau persoalan-persoalan identitas abstrak yang kadang justru meningkatkan volume sampah hari itu.

Surakarta, 26 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.