Mengapa di berbagai wilayah Nusantara selalu ada tari perang? Boleh jadi memang dahulu masyarakat kita adalah masyarakat petarung. Petarung itu maksudnya, mereka sangat menjunjung tinggi martabat mereka, sehingga jika kehormatan mereka direndahkan, mereka tidak takut mati untuk mempertahankannya. Bukan masyarakat yang hobi mencaploki wilayah.

Itulah mengapa Nusantara ini terdiri atas ratusan wilayah kekuasaan, baik dalam bentuk komunitas atau sudah mirip dengan model-model kerajaan. Yang pasti, begitu banyaknya komunitas di Nusantara ini, kita hari ini masih bisa menikmati warisan kebudayaannya yang begitu beragam. Dan nyaris semua peradaban itu, memiliki tari perangnya masing-masing. Itu pertanda bahwa peradaban kita sangat sadar arti perang. Perang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Saya berpendapat bahwa kesadaran perang ini bukan seperti kesadaran perang zaman sekarang. Pada zaman dahulu, tradisi bela diri dan bertarung adalah sesuatu yang harus dimiliki setiap orang. Sehingga olah fisik dan keberanian bertarung menjadi salah satu ajaran wajib orang tua kepada anak-anaknya. Hal itu sejalan dengan prinsip pendidikan al Quran bahwa tanggung jawab anak itu ada pada orang tuanya, bukan dipasrahkan sekolah secara penuh seperti zaman sekarang.

Jadi, dalam praktik komunalnya, konsep pemisahan sipil dan militer tidak dikenal dalam kebudayaan kita. Semua warga bisa menjadi tentara sewaktu-waktu jika kehormatan masyarakatnya diinjak-injak masyarakat lain. Hal itu pun sejalan dengan cara Nabi Muhammad membangun pertahanan Madinah. Bagi bangsa Arab, tradisi perang juga merupakan hal yang diajarkan setiap keluarga kepada generasinya. Maka Nabi Muhammad tidak pernah menghimpun tentara militer seperti kerajaan-kerajaan besar yang ada pada zaman itu. Nabi membentuk pasukan hanya untuk satu misi tertentu. Setelah misi selesai, pasukan dibubarkan. Demikian dilakukan Nabi secara berulang kali. Barulah di era kekhalifahan pengganti Nabi, tradisi militer permanen dibentuk oleh para pemimpinnya, karena mereka mengadopsi dari kekuasaan-kekuasaan yang ditaklukkan.

Gagasan pemisahan sipil dan militer itu menurut saya bukan tradisi asli Nusantara, tapi ngimpor dari luar. Bangsa kita memiliki model pertahanan kolektif. Makanya, hingga zaman revolusi fisik kemerdekaan, kita bisa membangun sistem pertahanan rakyat semesta. Kisah-kisah serupa dapat kita jumpai dalam Perang Diponegoro atau Jepang ketika masih zaman perang antar klan Samurai. Tapi di kemudian hari sistem pertahanan kolektif ini menghilang seiring dengan dibentuknya pasukan militer dan menguatnya dominasi militer, terutama di zaman Orde Baru, sehingga rakyat pun semakin memilih untuk hanya sekedar menjadi kaum lemah dan pasrah bongkokan kepada para tentara. Tari-tari perang kini tinggal karya seni biasa yang tidak punya makna. Padahal, hampir semua tari-tarian yang diwariskan leluhur kita, sebenarnya adalah gerakan perang. Tapi apa artinya semua karya besar itu di hadapan senapan, apalagi tank dan rudal.

Tradisi perang kini sudah hilang. Yang ada adalah tradisi agresi dengan tujuan pencaplokan wilayah. Bibit agresi ini sudah sejak berkembangnya kerajaan-kerajaan besar, yang rajanya memiliki ambisi meluaskan kekuasaan. Di antara raja-raja yang baik, mereka mengedepankan diplomasi dengan para penguasa wilayah lain untuk menjalin kerja sama hingga menundukkannya. Tapi lebih banyak raja-raja mempertontonkan kekuasaannya dengan mengirim pasukan penyerbu yang meluluhlantakkan peradaban lain.

Bagaimana dengan kisah penyerbuan pasukan Arab ke Syam, Yaman, dan Persia? Apakah ia juga masuk dalam kategori yang sama dengan tradisi penyerbuan di atas? Bisa jadi iya. Tapi ada beberapa catatan khusus yang pernah diulas oleh Hugh Kennedy bahwa kisah penaklukan para pasukan Arab ke tiga wilayah kerajaan besar di dunia saat itu melahirkan sesuatu yang tidak wajar, di mana masyarakatnya justru sukarela mengikuti agama penakluknya, walau di antara mereka membenci bangsa Arab di kemudian hari. Menurut saya, berarti para pasukan Arab generasi pertama kala itu, mereka tidak hanya mengusung misi penaklukan kemaharajaan besar Romawi dan Persia, tetapi mereka juga berhasil menunjukkan sisi keindahan Islam yang membuat masyarakat negeri-negeri itu memeluk Islam sekalipun di kemudian hari mereka membenci bangsa Arab yang sudah tidak seperti pendahulunya. Bahkan kehadiran Shalahuddin al Ayyubi lebih disukai para pemeluk Kristen dan Yahudi di Palestina, ketimbang penguasanya saat itu dari Bangsa Frank yang Kristennya beda sekte.

Tradisi perang hanyalah salah satu dari tradisi yang kini hilang dari Nusantara. Masih ada lagi tradisi-tradisi lain yang hilang, seperti kemandirian pangan dan kemandirian produksi dalam kebutuhan sehari-hari. Kita semua memilih untuk tunduk dalam penjajahan ekonomi yang kini membuat kita ketergantungan terhadap apa pun. Sehingga kita sekarang benar-benar menjadi bangsa yang tidak bisa bercerita apa-apa kepada bangsa lain untuk sesuatu yang membanggakan dari leluhur kita. Kita tidak punya cerita yang berkelas untuk anak-anak kita sehingga mereka lebih senang main COC dan jadi fans club berbagai karya kreatif kebudayaan lain. Dan lebih celaka lagi, kita merendahkan karya-karya leluhur kita sebatas karya seni, yang sebaiknya hanya dilakoni para seniman, dan bahkan tak jarang kita menjustifikasi itu sebagai produk bid’ah yang sebaiknya tidak dilestarikan dan dimodifikasi lagi.

Karena memahami tari perang saja kita tak mampu. Bagaimana kita akan berperang dengan berbagai kekuatan global yang hari ini tak lagi membawa pasukan fisik? Akhirnya kita lebih suka bertengkar dengan saudara kita sendiri. Ya, menyakiti saudara sendiri itu memang lebih mudah ketimbang berdiri gagah di depan para penyerbu dari segala penjuru.

Surakarta, 23 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.