Cara berpolitik bagi generasi muda yang paling cepat adalah nempel di politisi senior. Cepat menanjak lho karirnya. Tenan iki.

Tapi kalau mau sungguhan ya berangkat dari nol. Bangun reputasi dari bawah. Punya massa yang bersifat ideologis karena setiap hari dibina.

Demikian pula cara parpol menggaet suara paling cepat adalah merekrut para “artis” sebagai caleg dan jurkam. Dijamin cepat meraih dukungan suara. Kan butuhnya suara untuk dapat kursi. Soal gagasan dan program dipikir belakangan. Tanpa program pun nyatanya bisa dapat kursi banyak.

Tapi kalau partai itu sungguhan, ya dia dibangun dengan kesepakatan bersama dan pengkaderan yang disiplin dan berjenjang. Tapi di zaman serba pragmatis seperti sekarang, partai kayak gitu ga laku. Kalau pun dapat kursi, ya tidak seberapa. Makanya partai-partai mulai meninggalkan cara klasik yang logis ini. Jualan “artis” lebih laris.

Jadi, sebenarnya para politisi dan parpol saat ini sebenarnya hanya mengikuti selera pasar. Kita menghadapi masyarakat yang dimabuk pencitraan. Mengapa? Boleh jadi masyarakat kita memang belum siap berdemokrasi secara langsung. Itulah mengapa para pendiri bangsa kita merumuskan sila keempat yang berisi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Jaman orba, sistem kepartaian sebenarnya sudah logis dan sejalan dengan sila keempat Pancasila. Rakyat milih partai, biar partainya yang mengirim kader-kader terbaiknya di parlemen. Penyelewengannya kala itu, pemerintah mengintervensi partai sehingga ada partai yang dibiarkan sangat besar (karena jadi pendukung pemerintah) dan ada partai yang dipelihara tetap kerdil (diposisikan sebagai oposisi). Tapi mengapa ketika reformasi yang dirombak malah sistem pemilunya?

Karena sudah terlanjur kacau balau seperti sekarang. Rakyat yang harus mengambil keputusan. Mau tetap model demokrasi seperti Pancasila, atau menjadi liberal seperti AS, atau malah jadi kerajaan lagi. Soalnya kita saat ini gayanya sok-sokan liberal seperti AS, tapi realitasnya mirip dengan kerajaan-kerajaan di mana semua berebut tahta “Yang Dipertuan Agong” ala Indonesia.

Surakarta, 24 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.