Siap Nggak Jadi Rakyat?

Sudah sewajarnya menjadi rakyat itu lebih banyak kritisnya dari pada apresiasinya kepada pemerintah. Sebab ini negara republik dengan aturan demokrasi. Yang jadi masalah adalah kalau yang poin dikritik bukan masalah-masalah publik yang sudah disepakati tapi tidak dijalankan pemerintah. Seperti yang berjalan saat ini, kritik yang bertebaran lebih banyak bernuansa sentimentil dan sektarian. Sebagai rakyat, berarti […]

Kotak “Kosong” Demokrasi

Di antara tanda demokratisnya pemilu itu kalau nanti KPU menyediakan pilihan “KOSONG” berapa pun kandidatnya. Karena itu bukti kerendahan hati dari negara bahwa tidak semua rakyat yang datang ke TPS itu pasti pro ke salah satu kandidat yang ada, bisa jadi mereka tidak setuju pada semuanya. Dengan adanya pilihan “KOSONG” itu, maka angka golput bisa […]

Semua Berdagang Demi Uang

Karena kerja saat ini dimaknai sama dengan golek duit thok, akhirnya semua berlomba jadi pedagang. Jadi presiden, ndagang. Jadi anggota DPR, ndagang. Jadi apa pun, semua demi ndagang. Akibatnya lapangan kerja yang tidak menghasilkan duit mulai ditinggalkan. Industri bermunculan, sampah-sampah makin menggila. Setiap orang merasa tidak perlu melakukan kerja penyelamatan sampahnya sendiri-sendiri, sebab itu tidak […]

Mlipir

Perseteruan politik yang awet dari 2014 hingga sekarang itu justru mengingatkan saya pada perseteruan abadi Sunni dan Syiah. Setahu saya, permulaan perseteruan itu sebenarnya berawal dari kepentingan politik pasca kegagalan perdamaian di Perang Siffin. Meskipun seolah-olah damai tapi banyak peristiwa yang mengecewakan bagi umat Islam yang tidak segera dicegah pada masa itu. Baru di masa […]

Shalat dan Pencitraan

Mencuatnya berita soal Jokowi mengimami shalat di Afghanistan dan Anies bertemu Erdogan menjelang shalat Jumat sebenarnya hanya indikator bahwa masyarakat kita terbiasa mencampuradukkan hal-hal yang bersifat personal dengan urusan publik. Shalat itu mau munfarid atau berjamaah, esensinya tetap persoalan personal. Jadi seharusnya kita sebagai umat Islam yang meyakini akan kewajiban shalat ya fokus saja menjalankan […]

Biro-Korporasi

Di zaman Orde Baru, tentara maupun pensiunan tentara itu merangkap jadi macam-macam dari Gubernur, Bupati, dan berbagai jabatan strategis untuk mendukung kekuasaan Eyang Soeharto. Di zaman sekarang, tentara sudah dikandangkan ke barak. Giliran dosen-dosen merangkap jabatan strategis macam-macam. Akhirnya kampus kekurangan dosen dan jam-jam kuliah sering kosong atau dibanjeli saja. Dengan sendirinya kualitas penelitian yang […]

Salah Sangka Politik

Kok pada marah-marah sama politisi yang kampanye sebar kaos dan bagi-bagi uang ketika musim pemilu, tapi lupa saat menjadi anggota dewan atau pejabat tinggi. Bukankah mereka bisa kampanye itu karena mereka ubet cari sponsor dari para pengusaha besar, lalu bisa menyebar kaos dan uang. Wajar kan kalau nanti jadi anggota dewan dan pejabat tinggi yang […]

Gerakan Abstain Massal

Saya berkhayal seandainya demokrasi itu tidak dikendalikan oleh perilaku kapitalistik dari para sponsornya. Misalnya siapa saya berhak mendaftarkan diri di KPU untuk menjadi calon anggota legislatif dan petinggi eksekutif. Lalu yang menyosialisasikan KPU di tempat-tempat publik. Rakyat tinggal di suruh datang memilih. Jika biaya daftar nyalon gratis dan mereka tidak diperbolehkan kampanye dengan cara apa […]

Demokrasi Yang Masih Nganu

Dulu banget ketika awal-awal belajar tentang realita demokrasi, saya sering senewen sama pilihan teman yang berbeda. Apalagi sama-sama lagi belajar mengenal pergerakan dan bagaimana pergerakan itu bermakna bagi sebuah kehidupan masyarakat. Sekarang saya woles-woles saja. Saya yang tidak cocok di bidang pemasaran tidak lagi ikut-ikutan meramaikan dan memasarkan para tokoh. Tapi saya tetap mengapresiasi teman-teman […]

Demokrasi Super Ganjil

Beberapa keanehan demokrasi di negeri ini 1. Parpol bisa menggalang dana tak terbatas dari institusi bisnis, bila perlu elit perusahaannya menjadi anggota parpol sehingga setiap kucuran dananya disebut sebagai iuran anggota. 2. Rakyat hanya diberi kesempatan menyalurkan mandat dan tidak diberi jalan wajar untuk mengawasi mandatnya, sehingga kalau salah pilihan di pemilu harus nunggu 5 […]