Tong_KosongGuru jurnalistik, Pak Yusuf Maulana yang telah menjadi inspirasiku dalam membangkitkan semangat menulis akhirnya meluncurkan buku pertamanya. Beliau yang sudah hampir satu dasawarsa menekuni dunia tulis menulis itu akhirnya merilis buku pertamanya. Dalam statusnya di Facebook beliau menjadikan buku itu sebagai hadiah untuk puteri pertamanya.

Mengapa baru buku pertamanya? Bukan karena beliau tidak produktif. Kurang produktif apa coba jika puluhan tulisannya bahkan pernah membanjiri kolom opini surat kabar nasional. Ini karena pilihan beliau untuk menjadi sosok tersembunyi di balik kesuksesan tulisan seseorang yang menjadi sebuah buku. Beliau menjadi seorang editor.

Aku masih ingat bagaimana idealisnya beliau tatkala menjalani profesi sebagai editor. Beliau tidak tertarik untuk menjadi editor penulis-penulis yang hanya mengejar popularitas. Bagi beliau, pekerjaan editor adalah soal penting yang membuat sebuah ide cemerlang itu terbahasakan secara tepat dalam buku. Jangan dikira bahwa buku yang bagus itu semata-mata karena kemampuan penulisnya, bahkan tak jarang bahwa para editor-lah yang sangat berjasa membuat buku yang memang ide dasarnya bagus tapi masih mosak-masik itu menjadi tertata rapi dan dapat dinikmati para pembaca.

Menjadi editor ternyata membuat beliau mengumpulkan banyak catatan kaki yang terserak. Beliau juga pernah berbagi bagaimana penulis-penulis yang memang sejak awal mencari rupiah dari tulisannya. Tidak salah sih. Tetapi untuk sebuah buku inspiratif, beliau sudah menyingkir untuk menjadi editornya. Beliau hanya mau menjadi editor untuk buku-buku motivasi inspiratif yang penulisnya adalah pelaku sejati dari apa yang dituliskannya sendiri.

Dari perjalanan panjang beliau ini, beliau akhirnya mengoleksi banyak kisah. Baik dari cerita para penulis yang dieditorinya, kisah-kisah perjalanan yang ditemuinya, hingga beberapa catatan yang beliau peroleh sepanjang karier beliau. Beliau unik menurutku, karena mengemas berbagai ironi yang aneh dan akut dari negeri kita, dijadikan tulisan inspiratif yang tidak hanya menyadarkan akan keterbelakangan pola pikir kita tetapi juga menjadi nasihat agar kita segera berbenah dan bangkit. Judul buku yang berisi kumpulan ironi inspiratif ini pun nyentrik “Tong Kosong Indonesia Bunyinya”, jauh berani dan menyalahi peribahasa yang sudah terlalu mainstream.

Buku ini tidak terlalu tebal, dan dalam sekali jalsah (duduk) insya Allah selesai dibaca. Menarik sekali artikel-artikelnya, dan semoga bisa menjadikan pengingat dari diri kita yang sudah mulai mati rasa. Disindir tidak mempan, dinasihati marah-marah. Tapi apa kita mau Allah langsung turun tangan untuk menyelesaikan kenakalan kita. Naudzubillahi min dzalika.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.