Cheng HoHari ketiga lebaran, badan masih pegel-pegel setelah dua hari lebih banyak berdiam diri di rumah. Hawa yang sangat dingin meski tidak sedingin daratan Eropa di musim dingin justru mampu membuatku takluk. Hidung yang tersumbat dan riak yang cukup banyak ditenggorokan membuatku lebih nyaman berada di rumah dari pada keluar untuk berkunjung ke rumah-rumah. Tadi malam beberapa rumah terdekat sudah kuusahakan dikunjungi ketika badan terasa agak mendingan.

Pagi yang cerah ini, kubuka salah satu novel yang telah lama dibeli adikku. Judulnya adalah Cheng Ho: Sang Laksamana Muslim Dari Negeri Seberang. Kisahnya cukup menarik dan menyita waktuku setengah hari untuk membolak-balikkan halaman buku yang tebalnya hampir 400 halaman itu. Kisahnya menarik, inspiratif dan membuatku terhibur. Tetapi biografi yang dikemas dalam bentuk novel ini rasanya ada yang perlu diberi diulas. Hal itu karena di bagian belakang novel tidak disertai informasi yang dipakai oleh penulis dalam menyusun novel tersebut.

Ditinjau dari tujuan penulisan novelnya, jelas sekali novel ini lebih untuk membuat bangsa ini termotivasi dan melihat kemajuan kaum Tionghoa yang sangat kuat secara ekonomi dengan pandangan positif. Selain itu, novel ini memberikan pengisahan sisi lain di balik sejarah China yang cukup tua bahwa pada masa-masa kejayaan Islam, cahanya juga pernah membawa kejayaan Tiongkok di masa Dinasti Sung dan Dinasti Ming berkuasa.

Namun ada suatu kisah yang menurutku perlu diklarifikasi. Adanya seorang ulama Arab (Ta Shih) yang sudah mengembara ke China di masa Rasulullah masih hidup, khususnya di saat dakwah Islam baru-barunya di bangun tentu menjadi hal yang penuh tanda tanya. Terlebih dalam novel tersebut dikisahkan saat Ja’far bin Abi Thalib dan sahabat yang baru berhijrah dari Habasyah (Ethiopia) hendak pulang kembali ke Mekah tetapi terseret ombak hingga Laut China Selatan dalam waktu satu malam tentu ini juga sangat tidak masuk akal. Hampir-hampir aku mendapati tanda tanya besar tentang peristiwa ini.

Hal berikutnya adalah kebenaran pelayaran Laksamana Cheng Ho sebagai pemegang otoritas selama di kapal untuk mengkondisikan pasukannya mengikuti syariat Islam di tengah pergulatan ajaran Konfusian di China saat itu. Bahkan dalam kisah disebutkan para pendiri Dinasti Ming adalah orang-orang Muslim dari suku Hui-Hui. Jika dibandingkan dengan keterangan di Wikipedia, khususnya yang berbahasa Inggris, novel ini memberikan informasi yang rancu.

Ini mungkin sebuah kritik sekaligus pesan bagi para pembaca novel tersebut agar tidak serta merta menelan semua informasi yang ada di dalamnya. Sebagai sebuah novel tentu pengisahan menjadi fokus utamanya agar nyaman dibaca para pembacanya. Namun, untuk novel inspiratif yang satu ini, kita harus menelaah kembali beberapa sumber pembanding agar kita mengetahui sejarahnya yang lebih tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.