Tema hari ini adalah tentang salah paham yang berlanjut hingga gagal paham. Ceritanya usai kami mengadakan kegiatan bakti sosial Gerakan Aksi Cinta Budaya Indonesia di Pasar legi, aku, adikku dan fasilitatorku masih kongkoi-kongkoi di tempat itu, tepatnya di taman dekat pasar itu. Kami saling berdiskusi membahas hal-hal yang mungkin di rasa ada salah paham dari pengalaman kami selama ini. Bahasa mudahnya, kami ngangsu kawruh untuk memperbaiki pemahaman kami yang barangkali bermasalah.

Isinya adalah curhat seputar komunikasi yang kadang salah paham dan menyebabkan serangkaian kejadian yang tidak perlu. Hingga hari ini, aku yang termasuk salah satu orang yang ketempatan curhat beberapa orang aktivis merasa perlu mengolah setiap informasi yang kuterima dan kukonsultasikan pada orang-orang yang benar-benar bisa kupercaya. Tujuannya setidaknya aku juga bisa memberikan solusi alternative untuk mengatasi kesalahpahaman yang sering berujung pada tindakan apatisme paling tidak bermutu sedunia. Salah paham yang tidak diikuti dengan tabayyun dan islah kedua belah pihak adalah cara efektif untuk terjadinya perpacahan tanpa harus dipecah belah.

Malamnya dilanjutkan lagi dengan halaqah. Sebuah momentum yang tentu saja kurindukan setiap pekan mengingat ini salah satu forum spesial untuk banyak menelaah tentang kearifan hidup. Halaqahku terasa spesial karena pembahasan di dalamnya lebih kontekstual, refleksi shirah atas sebuah realita hari ini sehingga selalu ada hal-hal baru yang belum kita tahu.

Makanya setiap hari kita diminta tilawah dan tadabbur serta mengulang-ulang mengkaji shirah dan tafsir salah satunya agar kita memiliki kearifan dalam memandang hidup hari ini agar sedapat mungkin prinsip yang kita pegang tetap seperti para pendahulu kita. Ini bukan masalah teknisnya, karena kalau soal teknis kita banyak mengaji fiqih maka kita mendapat bekal untuk berbuat. Ini masalah tentang prinsip yang akan mengawal perjalanan hidup kita sehingga secara teknis benar dan secara perilaku tepat karena menggunakan inspirasi dari perjalanan manusia-manusia terbaik di masa lalu itu.

Jika menelaah kejadian-kejadian yang meliputi realitas politik, sosial, ekonomi dan lagi-lagi dikembalikan kepada persoalan akidah umat maka semua itu adalah satu benang merah tentang realitas GAGAL PAHAM dari sebagian umat Islam ini dalam beragama. Kalau kita menggunakan bahasa yang lebih lapang dada, itulah fenomena yang sewajarnya dari sebuah umat yang baru memulai kebangkitannya lagi setelah pernah berjaya dan terjerembab ke dalam kubangann yang hina akibat terlena. Yah, kita sedang bangkit dan terus bergerak menuju kebangkitan.

Maka mari kita lihat bagaimana saat ini di kalangan umat Islam yang sibut berebut pengaruh, memecah-mecah diri menjadi skoci kecil pasukan dakwah dengan klaim mereka masing-masing. Sehingga upaya menuju persatuan umat yang satu akidah dan asas ini mengalami banyak ujian. Sehingga kita pun masih harus berusaha sekeras tenaga menangkal aliran-aliran sesat yang tumbuh subur seiring upaya perpecahan yang terjadi di kalangan umat ahlus sunnah itu sendiri. Kita masih sibuh saling cerca sana-sini, sementara para penggila kekuasaan mencoba merebut hati umat yang GAGAL PAHAM itu dengan aliran-aliran sesat yang ia kenalkan mulai dari Syiah, Liberal dan aliran-aliran berbahaya lainnya.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.