Ceritanya hari ini aku dapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan dalam penyusunan proposal pengajuan dana mulai dari hibah hingga CSR. Materi pertama adalah paparan bagaimana anggota dewan bekerja dalam rangka memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui sistem anggaran dan penyaluran bantuan kepada konstituen.

Salah satu anggota komisi di DPRD Jawa Tengah hadir menjadi pembicara. Cukup jelas gamblang dan membuka wawasanku bahwa ternyata memang selama ini penyelenggaraan pemerintahan kita masih berat sebelah. Hal ini beliau akui di mana sebuah partai yang berkuasa akan cenderung memprioritaskan ajuan dari konstituen partainya. Maka wajar saja bila setiap partai berlomba untuk menjadi bagian dari koalisi yang mengusung orang nomor satu di Kabupaten, Provinsi atau Negara.

PR-nya adalah sejauh apa partai menyiapkan pemimpin yang berkompeten untuk hal ini? Jika pemimpinnya goblok dan sistem partainya rusak maka uang yang ada memang akan menguap dalam korupsi yang sulit dideteksi. Bagaimana mendeteksinya wong itu konsensus rame-rame.

Materi berikutnya adalah teknis penyusunan proposal dan mengenal karakter lembaga donor. Pembicaranya adalah salah satu pakar bidang beginian. Yang menarik adalah prolog yang beliau angkat. Beliau mencoba mengangkat problematika kemiskinan di negeri kita. Lebih tepatnya ironi tentang kemiskinan di negeri yang kelas menengahnya sedang tumbuh pesat.

Menurut catatan BPS, penduduk Indonesia yang masih dalam kategori miskin saat ini telah mencapai 30 %. Angka ini adalah angka yang katanya lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya. Secara matematika sebenarnya ini bukan problem yang berarti mengingat masyarakat Indonesia mayoritas Islam, dan jika dua orang muslim menanggung satu saudaranya maka sebenarnya selesai masalahnya.

Tapi mengapa tidak demikian? Semakin bertambahnya angka kelas menengah kita, semakin tambah pula kemiskinan orang lain, dan bahkan lagunya Bang Rhoma seakan terbukti bahwa “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin“. Asli itu terbukti. Maka itu adalah ironi di mana pertumbuhan ekonomi kita yang katanya menurut statistik cukup tinggi ternyata meningkatkan prosentase masyarakat yang miskin dengan ironi meningkatnya masyarakat kelas menengah.

Maaf saya tidak perlu berbicara data yang lebih detail, tapi mari perhatikan saja sekitar kita. Apakah seperti demikian. Jangankan dua orang berjuang menanggung satu saudaranya yang dikategorikan miskin, wong rame-rame satu komunitas saja terkadang masih ada yang membiarkan satu dua anggotanya miskin. Dan dalam skala besar inilah yang dikatakan kesenjangan sosial itu. Mengapa terjadi? Karena ukuran masyarakat kita telah berubah.

Dalam semangat kegotongroyongan yang pernah ada dahulu, kita adalah bangsa yang mengenal kepemilikan kolektif dimana persaudaraan dan persatuan adalah harta yang lebih berharga ketimbang uang yang dimiliki secara pribadi. Hal itu adalah kondisi yang dicontohkan para ulama yang mengajarkan Islam di negeri ini. Mereka dai sekaligus solusi dalam kehidupan masyarakat, yang tidak hanya berbicara tentang konten agama tetapi menjadi teladan bagaimana menjadi seorang muslim yang berimbang dalam bekerja.

Sayang, hal itu dirusak oleh sistem feodalisme buta yang membuat seseorang mampu menguassai kehidupan banyak manusia lainnya. Hal itu diperparah lagi dengan kapitalisme yang dibawa penjajah yang mendefinisikan ukuran kekayaan seseorang dengan berapa uang tabungan yang dimiliki dan berapa aset yang dimiliki. Maka perlahan namun pasti bangsa kita mengalami krisis. Bahkan saat Indonesia merdeka pun, salah satu akar polemik yang ada sebenarnya adalah masalah ini.

Mari kita lebih arif menilai apa yang terjadi di sekitar kita. Benarkah bahwa dengan bertambah kayanya kita dan bertambahnya indeks pertumbuhan ekonomi kita, solusi kemiskinan terselesaikan. Jangan-jangan kita malah menjadi bagian dari sistem yang memiskinkan saudara sebangsa kita yang lain. Karena Indonesia memiliki fundamental kehidupan yang berakar dari komunitas, bukan dari individu seperti bangsa Barat.

Apa yang sudah kita lakukan untuk sekitar kita? Jangan sampai kita menjadi bagian dari pencipta ironi yang sangat aneh dan tidak bermutu ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.