oleh Harry Hasan Santosa

Ukuran sukses, menurut orang bijak adalah seberapa banyak memberi manfaat. AlQuran bahkan menyebut ukuran kemuliaan bukan dgn kemuliaan jabatan dan berlimpahnya rezqi, namun seberapa banyak membela dan mengangkat derajat kaum tertindas. Maka berkompetisilah dalam memberi kebermanfaatan bagi kebaikan sesama terutama yang paling tertindas dan lemah, bukan berkompetisi memenangkan pertandingan dan kekuasaan.

Konon kekuasaan dipercaya sebagai alat agar bisa memberi manfaat secara lebih masif dan banyak. Mungkin benar adanya, namun bukan itu jalan sejatinya. Nabipun menolaknya. Jalan sejatinya adalah seperti anak bayi yang belajar merangkak sampai bisa berlari, bersamaan waktu yang panjang.

Begitulah sunnatullahnya. Mulailah bersyukur dan iklash dgn cara mengenali lalu menerima serta menghebatkan karunia2 yg ada dalam diri, kemudian bergerak menuju ke lingkar yang lebih lebar yaitu kebermanfaatan pd keluarga, desa, masyarakat dan alam.

Individual to local, local to communal, communal to global. Kepemimpinan yang merangkak dari bawah hingga berlari sempurna. Begitulah kepemimpinan yang fokus pada integritas dan personalitas diri. Bukan kepemimpinan yang lahir karena kompetisi. Sepanjang sejarah, tidak pernah lahir pemimpin karena kompetisi, krn kompetisi hanyalah melahirkan para jawara dan petarung. Bila berkuasa, maka dia tidak sibuk memimpin apalagi mengayomi tetapi berjiwa paranoid dan sibuk “ketakutan” akan ancaman lawan-lawannya.

Pemimpin lahir krn sibuk memberi bukan sibuk mengambil. Pemimpin telah selesai dengan dirinya, bukan mengais2 mencari jatidiri dgn berkedok pahlawan rakyat dan pembangunan. Mau memimpin kok belum mengenal jatidiri?

“Terasa berat olehnya penderitaanmu”, begitulah karakter pemimpin dalam alQur’an. Sederhana memang, tetapi itulah esensi keseluruhan dari seorang perawat manusia dan perawat semesta. Bagaimana penguasa karbitan akan mampu memadukan nalar dan perasaannya utk memberi solusi atas “penderitaanmu” itu?

Jangankan solusi, merasakan penderitaan rakyat saja belum tentu mampu. Seumur-umur dalam hidup calon penguasa ini, “makan dan tidur, jatuh bangun” bersama mereka yang ingin dipimpinnya saja tidak pernah. Malah sibuk bertanya tanya, “apa penderitaanmu?”

Ketahuilah bahwa menjadi penguasa itu mudah, tetapi menjadi pemimpin itu perlu merangkak dgn ikhlash, lalu bersyukur dgn berjalan kemudian bershabar dgn berlari. Penguasa yang bukan pemimpin, hanyalah pecundang yang serakah, yang mengukur sukses dari pundi pundi yang bisa dibawa pulang. Percayalah.

Salam Pendidikan

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.