Apa yang terpikir saat melihat anak-anak usia SD berjualan? Mempekerjakan anak. Mengeksploitasi mereka demi kepentingan ekonomi? Jangan begitu dulu. Justifikasi terlalu dini akan mengakibatkan pola pikir yang karbitan. Bahwa kita dilarang mempekerjakan anak dalam bisnis maka aturan itu jelas. Tetapi mengenalkan anak-anak dunia bisnis sejak dini itu juga dibenarkan dalam pendidikan.

Hari ini, Sekolah Alam Bengawan Solo melakukan outing class. Outing Class-nya tidak main-main. Siswa-siswa yang sudah dikumpulkan dan ditantang untuk berjualan di Car Free Day alun-alun Kabupaten Sukoharjo itu pun telah mempersiapkan dagangan yang mereka buat beserta orang tuanya. Orang tua adalah pilar yang berhasil menjadi partner kerja sama yang baik bagi sekolah ketika mereka mengerti bahwa belajar itu tidak sekedar membaca buku dan mendapat nilai bagus, tetapi menguasi banyak keterampilan yang berguna untuk kehidupan.

Menarik sekali saat dicermati. Aku melihat sebagian mereka telah tumbuh jiwa bisnisnya. Aneka kreativitas dari kain flannel dan aksesoris itu dibuat selama 4 pekan bersama sang ibu, dikemas sendiri dengan label tertentu lalu dijual di acara pagi ini. Sebagian lagi ada yang jualan makanan dan minuman tradisional. Tapi ada juga yang memang hanya bermain-main dan tidak niat untuk berjualan. Tapi itu tidak masalah, anak-anak kelas 3 SD ini lebih beruntung disbanding teman-temannya yang tiap hari hanya tahu meminta uang saku tanpa merasakan hikmah dari bekerja.

Setidaknya agenda selapanan (35 harian) ini akan menjadi salah satu metode yang ampuh untuk mengenalkan kepada siswa tentang arti kehormatan bekerja. Bahwa bekerja itu tidak semudah meminta uang saku. Mereka juga belajar mengerti bahwa memiliki uang dari hasil kerja keras sendiri lebih berharga dan lebih terhormat.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.