Sore ini adalah kelanjutan yang kemarin. Jika kemarin membahas kekuatan pengaruh dalam kegiatan dengan segitiga kunci (landing page, social media, dan event), sekarang adalah proses sinergi antar lembaga-lembaga keilmiahan UNS. Alhamdulillah, SCF telah terbentuk dengan konsep baru setelah satu tahun yang lalu dihidupkan lalu dengan rutinitas yang membingungkan. Saya bingung, humas saya juga lebih bingung.

Gagasan UNS mengabdi dan UNS berkarya pun dilontarkan oleh nahkoda SIM yang baru. Pembahasan pun bergulir dengan cara klasik yang membosankan. Yang menunggu saja bosan, apalagi yang ikut dalam pembahasan. Sebuah pola diskusi yang sepertinya ini telah mendarah daging di kampus yang menjunjung tinggi tradisi kejawen yang serba pekewuh dan sungkan. Ah, bosan.

Aku dan dua trainer yang kemarin ngisi, mas Yudi dan mas Bison hanya terkekeh-kekeh sambil terus memperhatikan proses diskusi yang “sedih“ itu. Barulah ketika kami diberi kesempatan berbicara, akhirnya dimulai dari mas Yudi yang menyindir para peserta yang suka mempersulit diri. Belum berpikir mulainya sudah berpikir kalau begini gimana, kalau begitu gimana, bla bla bla ….. ruwet. Ternyata membentuk sinergi dan memikirkan sebuah gerakan sosial yang sebenarnya resource-nya kelewat banyak ini bukan hal yang mudah. Diskusi “sedih“ sore ini contohnya.

Singkat cerita, kami pun memberikan kepada mereka contoh-contoh gerakan riil yang langsung menyasar pada sasaran tanpa butuh banyak buang-buang waktu untuk rapat dan bikin renstra ini itu. Prinsipnya adalah setiap kita punya potensi dan ketika potensi itu digabungkan maka terjadilah sebuah gerakan.

Misalnya bagaimana membuat UKM-UKM yang selama ini termarginalkan menjadi lebih terkenal dengan www.terasolo.com, di sana mahasiswa yang jago fotografer, reportase, informan, editor, IT, bersinergi dengan perusahaan yang punya CSR untufk memberikan warna baru penghormatan kepada para pedagang kita yang diinjak-injak pejabat karena izin mall dan plaza yang kelewat batas.

Kemudian www.teknologue.com yang mempertemukan para mahasiswa yang hobi menulis tentang masalah teknologi namun bingung juntrungannya dengan para webmaster yang tidak bisa menulis, sehingga tersajikan sebuah portal informasi teknologi yang positif di tengah pemberitaan media yang hanya menggosip dan bikin masalah saja. Dan tentunya dengan portal ini, Allah memberikan rezeki para webmaster dan penulisnya.

Bahkan www.wujudkan.com dapat menjadi sarana bagi orang yang punya ide namun tak punya uang untuk bertemu kepada mereka yang punya uang. Tentu saja ini masalah kreatifitas dan semangat berbagi. Saat kita ada maka bantu yang lagi butuh, maka suatu saat kita pun akan mendapatkannya bahkan lebih baik lagi. Bukankah ini juga yang sering disampaikan oleh ust. Yusuf Mansur. Ah, lagi-lagi ini hanya alih bahasa yang memang sering sulit dilakukan para aktivis karena terlanjur menelan kosakata sulit sehingga rapat pun harus diperpanjang untuk saling beradu hafalan kosakata sulit itu.

Stop banyak rapat, diskusi “sedih“, dan gerakan “kosong“. Mari kita penuhi usia kita dengan realisasi gagasan positif dan kata-kata optimis kita. Untuk Indonesia dan dunia.

4 Comments

        1. Yuli Ardika Prihatama

          Ha ha, soalnya ini baru merintis gerakan. Belum jadi event mbak. Tahulah gimana beratnya jadi perintis. (Aku sih tinggal jadi observer) bersama mas-mas pembicara yang juga guruku marketing. Kami ketawa2 aja lihat mereka diskusi “sedih” gitu. Diskusi “sedih” : diskusi panjang, berbelit-belit dan menyusahkan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.