Entah kenapa, dari 4 kelas yang kuajar di jam malam boarding pasti yang kelas 7 ini adalah kelas yang paling tenang, soalnya pada tidur di kelas. Ketika mengajar anak-anak putri baik kelas 7 atau 8, mereka antusias sekali (ciee, sepertinya ngajar anak-anak putri itu lebih menyenangkan). Ketika mengajar anak-anak putra kelas 8, mereka juga antusias sekali, yang kelas 7 ini kok cuma separuh ya yang bertahan. Mau fisika atau biologi pasti mereka lebih memilih tiduran saja.

Kadang aku bertanya, apakah penyampaianku terlalu membosankan ya. Hemm, aku mungkin terlalu idealis ketika mengajarkan fisika kepada anak-anak yang baru setengah tahun keluar dari SD ini. Tapi di sisi lain, aku memegang teguh pesan salah satu dosen favoritku bahwa mengajar IPA itu bukan mengajarkan hafalan, tetapi menguatkan ajakan kepada siswa untuk berinteraksi dengan alam dan dengannya kita bisa menemukan berbagai peristiwa. Dari peristiwa itulah baru ilmu itu disusun dan dipahami bersama.

Contohnya, dalam masalah kalor. Seringkali siswa langsung tahunya ada rumus Q sama dengan “m“ dikali “c“ dikali “delta T“ tanpa paham kejadiannya dan arti fisisnya. Hal ini dapat dicek ketika mereka ditanya dengan konsep jawaban mereka mengambang. Menurutku inilah sumber masalah kenapa fisika itu sulit dipahami. Fisika memang sulit, tapi bisa dipahami. Masalahnya, fisikanya udah sulit, dan siswanya sulit memahami. Dan mungkin inilah yang membuat Kemdikbud memilih soal ujian nasional pilihan ganda. Karena boleh jadi, siswanya kalau dikasih uraian juga tidak bisa menjawab dan Kemdikbud masih meragukan kompetensi gurunya.

Saat kuliah pun terasa. Jarang sekali kampus-kampus di Indonesia (apalagi kampus ruko swasta) melakukan validasi kompetensi mahasiswa melalui tipe ujian yang paling menjanjikan, yaitu wawancara. Mentok-mentok ujian tulis atau membuat makalah. Itu pun terkadang hanya bersifat formal dan jauh dari tendensi inovasi dan analisis gagasan. Pengalaman ketika di Jerman kemarin dengan ujian lisan yang singkat dan cukup mudah sudah cukup membuatku paham, bahwa orang yang punya pengetahuan harus dibiasakan untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya.

Maka seharusnya hal seperti ini penting ditanamkan kepada para peserta didik. Sehingga mereka tidak lagi belajar menghafal, tetapi belajar untuk mengerti. Sehingga pendidikan itu bukan untuk mengeksekusi dan menjustifikasi siswa itu bodoh atau pintar, tetapi yang mendidik itu sendiri. Siswa yang tidak bisa harus dibimbing sampai bisa. Jika tidak bisa, guru dan orang tualah yang seharusnya bertanggung jawab, bukan si siswa itu dengan mendapat malu nilai jelek. Jadi siswa merasa penting bagi dirinya sendiri bahwa ia harus belajar.

Kebiasaan belajar menghafal, khususnya dalam ilmu sains akan membuat beban yang berlipat, padahal itu hanya masalah konseptual. Kalo siswa itu paham konsep, maka ya ia sekali belajar dan sampai kapanpun dia pasti bisa dan mengerti ketika ada pengembangan materi. Kesimpulannya orang yang belajar IPA itu seharusnya punya banyak waktu luang untuk eksplorasi ke yang lain, karena dia cukup sekali belajar dan setelah itu yang sudah tinggal banyak latihan dengan berbagai variasi permasalahan. Bukan setiap permasalahan dihafalkan rumusnya.

Kesimpulannya, malam ini adalah tamparan buatku agar mau belajar mengendalikan kelas yang isinya orang-orang yang suka tidur. Jangan salahkan siswa yang tidur, tapi salahkan diri yang belum mampu membuat mereka terbangun.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.