Malam ini aku belajar tentang estetika. Setelah lama tidak silaturahim kepada gurunda, Pak Yepe, aku nekat malam ini datang ke rumah beliau. Berbincang macam-macam sambil menunggui Aufa mengerjakan matematika dan bermain dengan Zein yang lucu. Semua terasa santai hingga akhirnya beliau mengajakku mengambil kameranya mbak Emm dan mengajakku berhenti menikmati keindahan hiasan-hiasan Lampion Imlek di Pasar Gedhe.

Bukan untuk merayakan Imlek lah, tapi malam ini aku belajar bagimana memotret yang baik dari beliau. Beliau memberikan contoh bagimana menjepret obyek malam hari dengan manual focus. Karena habis hujan, jadinya genangan-genangan air yang ada di jalan justru menjadi salah satu obyek menarik untuk difoto. Pantulan sinar-sinar dari lampion merah, kuning dan ungu terlihat sempurna dari balik lensa kamera DSLRnya mbak Emm. Aku baru sadar bahwa ternyata di sini pun kita bisa membuat tampilan yang indah dengan trik kamera. Bahkan menurutku hasil jepretan Pak Yepe lebih indah dari jepretan biasa dari keindahan kota Eropa yang pernah ku kunjungi beberapa waktu lalu.

Setelah itu beliau mengajakku berbincang-bincang terkait masalah visi hidupku. Yah, malam ini aku dapat kuliah tentang kedudukan mahasiswa dalam pandangan beliau. Mahasiswa itu memiliki beberapa kriteria. Kriteria paling jeblok adalah mahasiswa apatis, mereka yang tidak memiliki apa-apa selain hanya seperti para tawanan yang mengikuti arus dan trend hidup. Ini adalah orang yang cuek bebek dan tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Ini adalah seburuk-buruk kriteria mahasiswa.

Yang kedua adalah mahasiswa kritis, yaitu mahasiswa yang memiliki intelektualitas, aktif sebagai aktivis tetapi kerjaannya hanya melakukan kritik dan kritik. Terlalu banyak beretorika, terlalu banyak SWOT sampai SWEET dan macem-macemlah. Kalo bahasa orang lain sih mahasiswa Omdo. Aku merinding, jangan-jangan aku juga di kelompok ini nih. Aduh, plak pipiku udah ketampar.

Yang ketiga adalah mahasiswa solutif, yaitu mahasiswa yang memiliki kecenderungan inovasi, dan memilih untuk banyak berbuat dari pada mengkritik. Kritiknya hanya sekedar pembuka untuk dia merealisasikan berbagai strategi dari solusinya. Jenis mahasiswa inilah yang saat ini dibutuhkan banyak orang. Untuk masyarakat dan untuk Indonesia. Sayangnya dalam pandangan beliau, mahasiswa jenis ini masih langka dan cenderung sulit ditemui. Sebenarnya banyak sih contoh dari mahasiswa solutif di sekitar kita, cuman karena pandangan kita yang terlalu mendongak atau telinga kita yang terlanjur familiar dengan bahasa tingkat dewa sehingga mereka seakan tak ada. Padahal keberadaan mereka berharga. Ah, aku juga ingin seperti ini.

Yang terakhir adalah mahasiswa pengambil peluang, yaitu mereka yang selain hanya memberikan solusi, mereka sekaligus bisa memikirkan efek positif bagi diri mereka dari solusi yang mereka angkat. Baik dari aspek ekonomi, sosial dan kedudukannya. Mereka yang memiliki ketulusan dalam mengabdi sekaligus menjadikan pengabdiannya itu tempat yang menghidupinya. Ini sulit, tapi bisa dilakukan, dan mereka yang bisa melakukan mereka akan merasakan hari-hari mereka selalu indah meskipun yang namainya badai dan lika-liku hidup itu tak pernah surut.

Dimanakah aku sekarang, jangan-jangan baru di level dua. Aduh-aduh parah banget. Udah segede gini masih manja berat. Jadilah malam ini malam kontemplasi. Mau nangis malu, tapi kalo ga nangis dengan rangkaian nasihat yang panjang ini, dadanya sesak. Ah, jadinya aneh. Terima kasih gurunda atas wejangan dan traktirannya malam ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.