“Parahnya, kita-kita ini yang kuliah di universitas sekuler lulusnya malah jadi ustadz”, kata pak Edi Syukur. Di kesempatan yang lain beliau berkata, “Aktivis dakwah terkadang justru kesannya nggak jelas, sepertinya berlagak ustadz tapi ternyata juga ga begitu ngerti, kalau ditanya kompetensi lebih tidak meyakinkan lagi”.

Ucapan di atas adalah selorohan yang pernah terlontar dalam sebuah diskusi antara kami dengan beliau, salah seorang yang dulu pernah menjabat sebagai staf ahli menristek RI. Perhatian beliau terhadap generasi muda khususnya para aktivis sangat luar biasa. Sejak beliau menjalani studinya di Jepang dari S1, S2, hingga S3, beliau telah makan asam garam dunia peraktivisan sehingga pada gilirannya beliau kini berkiprah di Indonesia untuk mendorong perbaikan kualitas intelektual para aktivis yang kini mengalami penurunan.

Terkhusus para aktivis dakwah, beliau dengan sangat cerdik menyindir para aktivis kampus yang hari ini kebanyakan beretorika waktu di kampus namun miskin definisi, bahkan untuk sekedar mendefinisikan dirinya sendiri. Ujung-ujungnya, meskipun hebat di kampus, namun akhirnya pupus setelah pasca kampus. Pupus bukan berarti gagal, tetapi kemudian menjalani hidup pasca kampus tidak sekapasitas dirinya lagi. Seharusnya mereka bisa menjadi orang-orang besar, namun ternyata hanya berkontribusi lebih kecil pasca kampusnya.

Ada point penting yang beliau tekankan kepada para aktivis dakwah yang sekarang kuliah di universitas-universitas sekuler bahwa penguasaan kompetensi itu menjadi sangat penting. Jadi jangan sampai reputasi sebagai aktivis kampus ternodai karena ketidakpecusan kita pada kompetensi yang tengah dipelajari selama ini. Mengapa? Karena Indonesia hari butuh ahli-ahli yang baik dan sholeh. Jika para aktivisnya tidak ahli, siapa yang akan menjadi para tenaga inti birokrasi dan para pemimpin bangsanya. Apakah kita membiarkan Indonesia ini digerogoti oleh kebodohan yang menancap pada kepala-kepala para birokrat dan kemiskinan mental yang melekat dihati para pejabatnya? Indonesia butuh orang ahli yang shalih untuk menyelesaikan berbagai krisis negeri hari ini.

Maka dari itu, penting untuk belajar yang benar. Jika ingin jadi ustadz, jangan tanggung-tanggung untuk kuliah di universitas-universita yang mengajarkan ilmu syariah dan fokus di sana. Begitu pun yang ingin menjadi ahli-ahli di bidang kehidupan ini, maka kuliahnya juga dijurusan yang sesuai. Bukan menyempitkan pemahaman, tetapi membangun kompetensi sesuai dasar keilmuan itu penting. Karena sudah pasti kalau dia menyatakan diri sebagai aktivis dakwah maka tanggung jawab membangun kafaah diniyah sudah melekat sebelum tanggung jawab menjadi orang yang berkeahlian. Selanjutnya bangun komprehensivitas pemikiran agar kita menjadi orang yang memiliki keahlian khusus dengan wawasan yang luas. Mari menjadi spesialis yang generalis.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.