Bagaiamana perasaanmu ketika diminta berbuat sesuatu yang penting sedangkan kita tidak mengerti inti dari sesuatu yang penting itu? Bagaimana pula perasaanmu ketika bekerja sama dengan orang-orang yang visinya berlainan namun tak pernah ada rekonsiliasi? Yang pasti akan menjemukan, membosankan dan mungkin bikin emosi. Dan yang pasti, kinerjanya pasti tidak akan produktif. Sehingga hasilnya pun tidak akan memuaskan.

Ceritanya hari ini ada diskusi untuk membahas sebuah perencanaan sebuah strategi. Intinya tim ini sudah dibentuk hampir setengah tahun lebih, namun hingga hari ini aktivitasnya hanya seputar pertemuan yang sering cancel hingga pembicaraan-pembicaraan prosedural yang sesama kami tidak paham, hingga akhirnya saya merasa bosan dan memilih prioritas yang lain. Berbagai jalur mediasi diusahakan, pertama meyakinkan diri bahwa rekonsiliasi pasti bisa dilakukan, kedua adalah berhusnudzan bahwa tim ini baik dan bisa terus berbuat baik.

Alhamdulillah, keberanian untuk mulai berbagi itu tumbuh. Akhirnya pagi hari ini terjadilah diskusi yang menurutku dan seorang temanku yang lain adalah diskusi yang paling menyenangkan sepanjang diskusi yang lalu-lalu. Bagaimana tidak, hari ini akhirnya kami berhasil mempertemukan ide, cara pandang dan mungkin segala dongkol di masa lalu yang tidak bermutu. Hari ini sepertinya semua hal itu terlebur dalam diskusi dan pengakuang masing-masing. Itulah yang ingin kusebut sebagai titik temu. Dan kekuatan titik temu itu ternyata sangat dahsyat dampaknya.

Dari kejadian ini aku semakin yakin bahwa perpecahan yang sering terjadi hari ini selain disebabkan oleh egoisme yang tinggi (khas Indonesia) juga karena tidak adanya kepedulian para anggota tim atau komunitas untuk mengusahakan titik temu. Semakin sulit mencari titik temu, semakin besar pula egoisme yang muncul dan akhirnya makin menguat menguasai diri. Ujung-ujungnya setiap orang merasa benar dengan pendapatnya sendiri tanpa bersedia belajar dan menelaah kembali rujukan yang benar. Bahkan terkadang tidak jarang sifat egois itu menjadikan seseorang memelintir berbagai bukti dan referensi demi membenarkan apa yang dia perjuangkan. Jika sifat ini melekat pada ulama, tamatlah riwayat umat. Tapi lebih tamat lagi riwayatnya nanti di akhirat.

Jika Islam ini ingin kuat, maka yang harus diusahakan oleh umat Islam sendiri yang hari ini terpecah-pecah adalah mengusahakan titik temu. Selama akidahnya sama dan lurus, pasti pecahan-pecahan itu bisa bertemu, kecuali pecahan-pecahan itu memang telah rusak permatanya (sesat akidahnya). Adalah sangat memilukan jika setiap jamaah hari ini menyombongkan golongannya dan mencela jamaah yang lain. Meyakini bahwa jamaahnya paling benar adalah manusiawi, tetapi mencela golongan lain secara kasar bahkan tidak manusiawi justru akan semakin menjauhkan dari titik temu.

Ini sekedar refleksi dari seorang muslim yang merindukan perdamaian sesama kaum muslimin. Selagi seakidah dan lurus akidahnya, mengapakah kita harus mencela saudara kita berbeda jamaah. Belajar dan mengajarkan dengan hikmah itulah cara agar terjadi titik temu di antara kita. Selagi kita menggunakan landasan Quran dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih tentu kita bisa meneladani damainya para sahabat yang juga tetap memiliki perbedaan. Mereka berbeda tetapi hakikatnya sehati seperti bintang-bintang berkelipan menghiasi langit malam. Indah bukan. Titik temu, mari selalu kita usahakan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.