Kam fii naa bal laysa minnaa, kam minna bal laysa fii naa.

(Banyak yang ada di lingkungan kita, tetapi sebenarnya mereka bukan bagian dari orang-orang yang bervisi seperti kita, banyak yang bervisi seperti kita, tetapi mereka tidak berada dalam lingkungan kita)

Itulah kiranya pesan yang sangat bagus kudapatkan hari ini dari salah satu guruku. Hemm, menempatkan diri pada sebuah pemikiran yang paling mapan adalah tugas kaum cendikia. Di saat berbagai isu, fitnah dan berbagai ketidakjelasan di luar kita, mulai dari media yang hoax hingga para penjilat yang hobi menebar berbagai kekacauan di sana sini. Semua itu pasti akan mentah jika sampai pada orang-orang yang teguh dalam visinya dan selalu menepati janjinya.

Seringkali pergerakan dan aktivitas kita hari ini, baik dalam konteks dakwah maupun keorganisasian selalu terkotori oleh citra labelisasi yang berlebihan. Metode check and balance terkadang diabaikan karena asumsi yang terlalu berlebihan. Data dan informasi kunci tak pernah dipakai gara-gara masalah pribadi orang per orang akibat konflik kepentingan pribadi. Semua itu sering mewarnai aktivitas kerja-kerja bersama kita (kerennya “aktivitas jamaah“). Yang disayangkan, hal-hal itu kemudian membuat banyak orang kecewa karena kurangnya jembatan-jembatan penghubung yang berkapasitas untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi yang sesuai.

Aku salut ketika mendapati beberapa rekan di sebuah organisasi yang begitu open mind. Sebagaimana aku juga yang berusaha untuk menempatkan visi pribadi di bawah visi bersama sebuah lembaga. Mungkin dalam beberapa hal kita itu berbeda meskipun kita berada dalam sebuah organisasi yang sama. Tapi ada hal yang pasti dan tidak boleh berbeda, yaitu visi bersama lembaga ini. Maka dalam organisasi yang visinya sudah jelas baik dan mulia, buat apa kita membuat sebuah perseteruan yang tidak jelas dan saling umpet-umpetan pada hal-hal yang tidak seharusnya diumpet-umpetin.

Kita harus sadar bahwa orang yang bergabung dalam organisasi atau pergerakan itu memiliki visi pribadi masing-masing. Ada yang ingin mencari kedudukan saja, ketika kedudukan tidak diraih maka ia mengumpat dan pergi. Ada yang ingin meraup materi, ketika materi hilang atau tak kunjung datang, maka ia memaki dan tak produktif lagi. Tapi bukan hak kita untuk menjustifikasi mereka sebagai “orang-orang yang berbahaya“. Belajar dari Rasulullah yang sudah jelas-jelas tahu kemunafikan seseorang, karena dibawah bimbingan wahyu saja beliau tidak pernah mengizinkan sahabat untuk membunuhnya sebelum terang kejahatannya, apalagi kita yang modal utamanya hanyalah prasangka. Maka kunci utamanya adalah berlapang dada dan tidak usah membuat gap dalam pergaulan kita di lembaga. Karena sebenarnya sumber masalahnya adalah ketika ketika basyirah kita yang lemah sehingga tidak waspada. Basyirah lemah karena tiadanya kedekatan dengan sang pencipta.

Pada akhirnya setiap aktivitas kita sebenarnya hanyalah tentang visi bersama, kerjakan dengan prosedur yang benar dan kita berharap itu akan berhasil. Maka di sana kemudian muncul orang yang diminta jadi pemimpin, dan yang lainnya adalah yang dipimpin. Dengan kesepakatan atas sebuah prosedur yang sama-sama dipahami maka berlaku bahwa yang dipimpin menaati pemimpinnya. Pada titik ini maka akan sangat aneh jika organisasi dipaksakan dipimpin sekumpulan orang belum sama-sama mengerti visinya tahu-tahu dipertemukan. Akibatnya, kalau tidak hanya isinya debat melulu (karena egoisme yang keterlaluan), ya saling menyelinapkan kepentingan di belakang yang dampaknya fatal.

Belajar dari salah satu guru lainnya tentang masalah aturan main. Jika Anda bergabung di sebuah kelompok, maka sebisa mungkin taati aturannya. Jika Anda tidak suka, ya tetap taati sambil di perbaiki jika itu memang perlu diperbaiki. Jika Anda tidak tahan, maka ketika Anda memilih mengumpat dan mencela jelas itu Anda sendiri yang bermasalah. Yang baik adalah Anda segera keluar. Karena sudut pandang kebenaran yang Anda miliki justru merusak prinsip yang kokoh dari kelompok tersebut. Kebiasaan mengambang dan tidak jelas dalam sebuah posisi lembaga akan menyebabkan kita tidak produktif di samping menimbulkan berbagai kerusakan.

Jadi, pilihannya adalah bagi kita yang terbiasa dalam aktivitas organisasi (artinya juga mengenal istilah kaderisasi), maka tanamkan hal yang mendasar yaitu visi besar sebuah lembaga itu agar siapa pun yang memang ke depan berhak melanjutkan organisasi ini mengerti apa yang paling penting untuk mereka lakukan. Bukan yang penting melakukan apa yang ingin kulakukan. Didiklah setiap generasi untuk loyal kepada pemimpinnya dan didiklah adab mengingatkan pemimpinnya ketika terjerumus pada kesalahan. Karena ini adalah kumpulan manusia, bukan kumpulan malaikat yang pasti sempurna.

Akhirnya, sebaiknya kita tidak perlu terlalu sibuk dan risau dengan tingkah orang lain. Perhatian dan bertanggung jawab pada organisasi, lebih menekankan pada langkah-langkah strategis yang perlu kita ambil dan segala antisipasi yang kita perlukan ketika terjadi kekacauan suatu saat. Kita kalah bukan karena musuh yang kuat, tetapi karena kita berhenti belajar, berinovasi, dan bermuhasabah untuk selalu mendapatkan energy yang luar biasa dari pencipta yang kekuatannya tak terbatas. Jika kita berdiri dalam sebuah gerakan dakwah, maka tetap lakukan yang terbaik, dengan cara yang paling baik, dan biarkan orang lain mencela dan berkata menurut kemauan mereka, karena kita juga akan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Penting untuk diingat. Ketika kita bekerja bersama, kita bisa bersama-sama mendefinisikan hasilnya apakah tercapai atau tidak berdasarkan indicator yang disepakati. Tapi apakah kita secara pribadi benar-benar berhasil? Lagi-lagi itu urusan kita dengan Allah. Yang jelas, setiap orang itu akan mendapati apa yang telah ia lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.