Ini bukan cerita beneran tentang Belanda atau warisan penjajahannya di negeri ini, karena aku juga sudah menolak judul-judul di buku sejarah sekolah yang mengatakan masa kolonialisme. Judul yang mencerminkan mental bangsa terjajah sehingga sama sekali tidak berani menulis judul yang lebih baik, yakni masa perjuangan melawan kolonialisme. Namun untungnya setelah lahirnya organisasi pemuda muncullah masa pergerakan nasional, sayangnya diputus dengan masa pendudukan Jepang.

Biarlah saja, itu urusan orang-orang sejarah yang merasa punya tupoksi untuk membuat rumusan buku sejarah yang baik (jika mereka merasa penting terhadap hal itu). Warisan kolonial adalah menyangkut refleksi pribadiku atas hal-hal di masa lalu yang mungkin kuanggap biasa tapi kini kutahu itu buruknya luar biasa. Dan itulah sejatinya apa yang tercermin dari perilaku bangsa kita yang menganggap perkara yang buruknya luar biasa masih tetap biasa-biasa saja. Korupsi itu buruknya luar biasa bukan? Tapi ia sangat biasa dilakukan oleh kebanyakan kita, dan mungkin juga diriku.

Apa yang kukorupsi? Kalo uang, yah uangnya siapa juga, wong jabatan saja tidak punya. Maka jelaslah yang sering kukorupsi adalah waktu. Maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mengkorupsi waktu? Gampang, ketika kita tidak menggunakan waktu seperti pada porsinya. Dan inilah yang hingga kini menjadi fokus untuk perubahanku demi meninggalkan sepaket kebiasaan-kebiasaan buruk warisan Kolonial (eh maksudnya warisan masa lalu yang sempat terbiasakan karena ketidaktahuan dan belum diarahkan oleh orang tua saat itu). Kebiasaan-kebiasaan buruk itulah yang menjadi madrasah korupsi pertamaku jika aku tidak segera menyelamatkan diri untuk masuk ke dalam madrasah kedisiplinan.

Apa pun itu, tidak enak bukan kita mewarisi bagian Kolonialisme. Hari ini tentu kita boleh saja berkata tidak, tapi apakah hati kita sudah benar-benar berkata tidak. Karena jika hati kita tak senada dengan kata kita, maka itulah warisan kolonial akrab dengan kita, kemunafikan. Berbicara kemunafikan hari ini bukan definisi matematika, tetapi sesungguhnya itu ada pada kedalaman perasaan kita untuk meraba apakah kita juga sebagai orang yang terjangkiti penyakit itu. Ketika kita punya kebiasaan buruk, sedangkan kita mencoba membaik-baikkan diri agar dipuji orang menjadi orang baik, maka itulah oknum-oknum VOC yang pernah bermuka manis kepada para sultan kita, atau mungkin mereka yang telah menjadi guru di awal-awal kehidupan manusia ini. Jangan salahkan setan, karena memang itulah kerjaan setan, tapi salahkan diri kita yang mau berguru pada setan.

Jadi, masihkah kita ingin menjadi orang-orang yang mewarisi sifat itu. Pertama, mari kita kikis kebiasaan-kebiasaan buruk diri kita masing-masing. Selanjutnya kita berbuat kebaikan dan menasihatkan kebaikan, maka semoga kita selalu seia sekata dalam hati dan kata, serta laku di setiap masa nantinya. Semoga!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.