Selanjutnya, kita mungkin harus tertawa dalam rasa sesak dan mual. Bagaimana tidak negeri yang 81 persennya adalah muslim dan sekaligus menjadi negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia ternyata zakat tidak populer dan tidak dipahami dengan benar oleh mayoritas masyarakat muslim. Paradoks yang diwariskan turun temurun tentang pemahaman yang sesungguhnya adalah pilar agama yang lain karena zakat termasuk bagian dari rukun Islam yang sudah jelas harus dipenuhi seorang muslim.

Potensi zakat di Indonesia yang dikemukanan oleh Badan Amil Zakat Nasional mencapai 217 triliun. Itu angka yang mampu menjamin kesehatan dan pendidikan masyarakat Indonesia kalau pun pemerintah tak lagi memberi subsidi, tidak hanya yang muslim, bahkan yang non muslim akan ikut merasakan sekiranya potensi itu terkuak. Itu uang yang seharusnya dikumpulkan karena zakat adalah kewajiban yang harus ditunaikan kaum muslimin untuk membersihkan hartanya. Sejauh ini umat Islam kebanyakan hanya tahu zakat fitrah yang dibayarkan menjelang Idul Fitri, padahal zakat mal juga wajib ditunaikan setahun sekali 2,5 persen dari total harta yang dimiliki selama setahun.

Nah ini menjadi bukti masyarakat muslim Indonesia perlu diedukasi agar mereka menjadi umat yang terbiasa belajar. Maka sudah saatnya dai, ulama, dan para cendikia muslim harus mengedukasi umat ini secara lengkap, bukan hanya berkutat pada masalah-masalah yang sering menimbulkan perselisihan dan permusuhan saja. Syariat zakat telah jelas, dan bahkan ia menjadi sangat penting sebagaimana shalat dan puasa karena  zakat menjadi salah satu rukun agama ini.

Maka solusi agar umat Islam kembali menemukan kedamaiannya adalah kembali pada agamanya. Membiasakan shalat lima waktu dengan baik. Menghidupkan kembali budaya shalat berjamaah, dan berpeluk mesra dengan sesama muslim. Sehingga masalah-masalah social keumatan dapat terjawab selepas shalat karena kepedulian saudaranya kepada saudara yang lain. Lapang dada menyikapi perbedaan selagi berada di atas sandaran akidah yang lurus dan memilih diam dari perdebatan masalah furu’ selama memang tidak berkapasitas untuk membahasnya akan lebih memberi maslahat dari pada menjadikan panggung terbuka dalam literasi, media televise, dan radio untuk menjustifikasi orang lain.

Shalat dan zakat adalah perpaduan antara keshalihan pribadi dan sosial kita. Jika hari ini masih banyak orang yang shalat dan haji sementara kemiskinan dan kebodohan masih menghiasi umat ini tentu ini adalah masalah yang harus kita selesaikan juga. Jika hari ini banyak orang yang ber-KTP Islam dan aktif di bidang sosial dan pendidikan sementara shalat mereka tidak begitu lancer dan sering bolong-bolong, maka itu juga masalah yang harus kita selesaikan. Tidak usah mencela siapa pun karena itu adalah masalah yang pasti kita hadapi sebagai bangsa yang sedang belajar untuk dewasa dan menjadi bangsa yang bisa bekerja sama.

Aliran-aliran sesat di Indonesia muncul dan akan terus bertambah seiring dengan kebodohan dan kemiskinan umat Islam sendiri. Kebodohan akan membuat umat Islam tidak bisa mendapati kaidah-kaidah pokok-pokok agama ini sehingga sering terlarut dalam fanatisme dan berkubu-kubu dalam aliran atau pergerakannya. Kemiskinan terutama kemiskinan moral dan akhlak akan menjadikan sebagian umat ini berpikir liberal karena mengikuti pihak-pihak barat yang telah menghidupi mereka dan mengajari mereka menjadi orientalis sehingga melanjutkan Snouck Hugronje dalam memecah belah persatuan kaum muslimin.

Kita berlindung dari kebodohan dan kemiskinan yang mengerikan itu. Semoga umat Islam Indonesia kembali bangkit menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah bangsa ini seperti telah diukir para pendahulu kita di seluruh penjuru nusantara. Meneruskan tugas dakwah dari Rasulullah, untuk mengentaskan umat dari kebodohan kepada cahaya Islam, melepas umat dari jerat kemiskinan dan perbudakan pada kemerdekaan dan kebersamaan hidup.

Maka apakah kita menunggu Allah memberikan bencana yang lebih hebat lagi lantaran kita pemalas, malas sembahyang dan malas bekerja keras. Bahkan dalam hadits pun dikatakan seandainya kalau bukan karena Allah menginginkan hewan dan tumbuhan tetap hidup niscaya Dia tak akan menurunkan hujan dari langit karena kemaksiatan manusia yang ada di sana. Maka mari kita tetap bersyukur terlahir sebagai muslim di Indonesia. Kita tak punya alasan untuk berkeluh kesah lagi. Mari kita satukan hati-hati kita untuk membangun kedamaian hidup dan meraih syurga-Nya di akhirat nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.