Hari ini aku ceritanya janjian ama teman untuk menghadap kepada pimpinan fakultas dalam rangka menghadiahkan buku yang kami menjadi termasuk salah satu penulisnya. Sebuah buku yang akhirnya dapat menorehkan karyaku setelah sekian waktu lebih banyak kubagi dalam rumah baca ini. Biasanya temanku ini yang telatan dan aku jadi penunggu setianya ampe terkadang berjam-jam lamanya (kadang-kadang).

Nah hari ini terbalik jadinya dia yang harus menunggu gara-gara aku lupa menaruh kunci kamarku. Hampir 1 jam aku muter-muter dari tempat-tempat yang kukunjungi semalam dan bertanya apa ada yang tahu kunciku. Ah, kok tidak ketemu-ketemu. Akhirnya aku memilih untuk memanggil tukang kunci untuk segera menyelesaikan urusan yang penting ini. Setelah hampir setengah jam sang tukang kunci melawan gembok modern yang sulit dibuka, akhirnya pintu terpaksa di bobol lantaran gemboknya super kuat untuk dibuka.

Baru dalam perjalanan membeli gembok yang baru, ternyata ada pesan masuk, “mas kuncinya ada di sini”. Oh itu tadi satu rumah yang terlewat untuk kukunjungi, gubrakkk. Ternyata ada di sana toh. Ya sudahlah, kunci terlanjur rusak dan kuganti yang baru. Biarlah, semua telah terjadi. Yang pasti aku membuang waktu hampir 2 jam untuk bisa masuk kamar dan mandi untuk menemui bapak-bapak di fakultas. Terbayang aku nanti sampai fakultas di-“ece” oleh temanku itu gara-gara telat.

Ternyata sampai di sana tu anak sudah menghilang, padahal sebelumnya bilang menunggu. Ah, sama aja, masih tetap aku yang menunggu sambil sesekali tengok resepsionis, takutnya bapak-bapak pimpinan “kabur” tanpa diketahui jejaknya. Karena kalau sudah memasuki ruang rapat, maka agenda hari ini kacau. Beruntung temanku tadi segera datang.

Orang pertama yang kami temui adalah Prof. Furqon, dekan kami. Beliau memberi apresiasi yang besar atas kegiatan beasiswa yang kami ikuti. Tak kalah pula, beliau berbagi dan sedikit memberi bocoran atas buku yang akan segera beliau terbitkan tentang guru dan pendidikan. Kata beliau, cukuplah guru itu berhasil 1)membangkitkan motivasi internal belajar siswa 2) menumbuhkan keyakinan kepada siswa bahwa proses belajar bersamanya akan mengantarkan mereka pada kesuksesan dan 3) guru menjadi teladan dan memberi bukti atas apa yang ia pikirkan dan katakan. Jika ketiga hal ini ada pada diri guru, maka pendidikan kita pasti akan maju dan mampu mencetak generasi bangsa yang berkarakter kuat dan cerdas.

Usai bertemu dengan beberapa bapak-bapak berikutnya, kami berpisah dan selesailah kisah konyol hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.