Di antara masalah yang paling kutakuti adalah rasa pesimisme yang terkadang menghantui diri sendiri. Penyebabnya macam-macam, mulai dari kebanyakan mengulangi kesalahan, atau rentetan kegagalan yang kualami. Pesimisme hadir karena ketidaksiapan diri menghadapi hal yang berbeda dari persepsi yang awalnya dibangun, terlebih hal yang berbeda itu jauh dibawah standar ukuran yang telah diterapkan diri sendiri.

Dan saat-saat ini sesekali pikiran buruk itu mengusikku. Entah dalam konteks yang mana pun. Seolah ia berkata dan menantangku yang ketakutan akan terputusnya harapan di masa depan. Dan itulah sebenarnya alasan arah mengapa kita harus selalu menang ketika menaklukkan diri sendiri. Karena sebenarnya musuh terbesar dari kita adalah diri kita tersendiri.

Dalam perjuangan mahasiswa hari ini, skripsi dan tugas akhir adalah salah satu tantangan yang yang terkadang berhasil dilewati dengan cara yang sangat mulus. Ada yang dengan cara yang sangat lama. Bahkan ada yang “gagal” melewatinya. Gagal melewatinya terkadang juga tidak selamanya buruk, karena Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan yang sejenisnya adalah termasuk orang-orang yang melewati itu semua dengan kegagalan di mata orang lain. Tapi sebenarnya mereka menyemai kesuksesan dalam sudut pandang lain di mata khalayak.

Nah, keresahan yang terkadang muncul adalah, apa yang sesungguhnya hal yang paling kuat yang kumiliki saat ini? Apa yang paling mahal kugenggam saat ini? Karena itulah modal untuk diriku dapat melakukan penaklukan pada fase-fase kehidupan selanjutnya. Yang jelas berpikir bekerja dalam artian yang stagnan seperti kebanyakan orang bukanlah pilihan yang kukehendaki. Apalagi pernyataan dari guru IT-ku bahwa anak muda tidak boleh punya tanggal tua. Atau pernyataan adik yang sekaligus bos dalam pekerjaanku, jadi pengangguran itu lebih punya banyak waktu untuk beraktivitas yang lain. Dan dalam kesimpulanku, jangan banyak menghabiskan waktu untuk berpikir mencari uang melulu, tapi luangkanlah waktumu untuk beraktivitas sosial, entah hasilnya berupa tulisan, motivasi, sedekah materi, hingga aksi nyata yang banyak dilakukan di lingkungan sekitar kita.

Jika mahasiswa tak punya itu? Apalagi yang diharapkan dari generasi pewaris bangsa ini nanti.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.