Wartawan Gadungan dan Atlet Amatiran

Pagi ini kami datang agak siang di sekolah. Sesuai informasi yang kami terima dari kepala sekolah hari ini anak-anak pulang pagi karena para guru dan komite sekolah akan bergotong royong membangun ruang kantin baru. Alasannya ruang kantin saat ini adalah ruangan yang bersebelahan dengan toilet sehingga tidak nyaman. Dengan adanya bangunan baru nanti, ruang kantin tersebut dapat diubah fungsinya menjadi gudang dan ruang pembuatan minuman oleh penjaga sekolah.

Awalnya aku berpikir terjun dengan pakaian lapangan berkubang lumpur di belakang sekolah. Namun akhirnya aku memutuskan menggunakan kemeja seperti wartawan yang sedang melakukan peliputan. Kawanku yang menyadari kostumnya yang salah karena menggunakan kaos berkerah berkomentar apakah kami akan ikut bekerja bakti dengan para warga. Aku jawab tidaklah, kita datang menjadi wartawan yang meliput kegiatan mereka. Ha ha ha, kami menjadi wartawan gadungan yang melakukan liputan. Bukan untuk diterbitkan di surat kabar, melainkan untuk kami sertakan gambarnya dalam laporan tulisan kami.

Usai memfoto aktivitas para guru dan masyarakat yang bergotong royong membangun kantin sekolah tersebut kami segera mohon pamit. Kami hanya datang mengambil gambar, jangan sampai seperti pejabat yang ikut menikmati fasilitas makan siang nanti. Kami lantas menyambangi gedung serbaguna yang digunakan sebagai lapangan bulu tangkis. Di sana sudah berkumpul beberapa anak-anak usia SD yang sedang bergantian bermain bulu tangkis. Kami pun ditawari raket untuk bermain dengan mereka. Dengan kostum celana resmi dan kemeja kami pun menjadi atlet bulu tangkis amatiran pagi ini.

Lima set sudah aku melakukan penyegaran tangan berbulan-bulan tak menyentuh raket. Kami harus malu saat melawan anak-anak usia SD yang begitu lincah memainkan raket untuk mengarahkan bulu itik itu ke arah yang tepat. Kami kalah dengan mereka. Tetapi tak masalah, setidaknya hari ini kami berasa mandi. Mandi dengan keringat yang mengalir deras. Di tambah dengan sinaran mentari yang seperti musim panas Eropa. Ketiadaan kipas angin di rumah yang kami tempati semakin menyempurnakan aliran keringat kami yang deras itu. Tapi kami puas.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.