Pagi yang Malas

Gara-gara semalam menikmati pertandingan sepak bola sampai larut, pagi ini usai shalat subuh di masjid aku kembali merebahkan diri. Temanku pun juga masih meringkuk kedinginan di tempat barunya ini. Kawasan pinggiran sungai Berau ini sangat dingin, kata orang Jawa sering membuat para penduduknya kedinginan atau “mbedhidhing”. Mungkin benar meskipun aku tak merasakan hal itu, karena sungai yang ada di samping kami benar-benar sungai besar seperti halnya sungai Rhein yang pernah kulihat di Dusseldorf, Jerman.

Lagi-lagi di pagi kedua kami di sini kami malas sekali untuk bangun. Sesekali kubuka ponselku sambil mencoba membuka aplikasi facebook yang tersedia. Alhamdulillah bisa terhubung dan melihat perkembangan informasi yang tertaut padaku. Meskipun sesekali menjadi lemot sangat, setidaknya di sini tidak benar-benar terisolasi dalam nuansa pedalaman yang penuh ironi. Mas Baihaqi pun telah menghilang sejak pagi dengan meninggalkan pintu terbuka di dapur belakang. Aku paham, ia melakukan itu agar bisa pergi dengan pintu depan tetap terkunci dan kami tetap nyaman dengan tidur kami tanpa harus dibangunkan.

Aku pun bangkit dan segera bersih-bersih badan untuk menyegarkan badan sebelum menjalani aktivitas hari ini. Hari ini kami akan ke sekolah lagi dan berjalan-jalan menyusuri pinggiran sungai Berau yang besar itu. Ketika kami sedang melakukan aktivitas pribadi di waktu pagi, datanglah pesan masuk ke ponselku yang meminta kami untuk segera ke sekolah. Katanya pak kepala sekolah mengajak diskusi kami. Hemm, aku berpikir jangan-jangan ini karena kami kemarin hanya memberi uang sedikit kepada salah seorang pegawai di sekolah itu yang mengantar jalan-jalan kami.

Sesampai di sekolah benar saja, kepala sekolah sudah menunggu kami. Aku menyiapkan mental untuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata beliau hanya mengingatkan kami untuk bersilaturahim ke rumah beliau dan pak RT. Hemm, benar sekali dan itu baru kami agendakan malam nanti. Maka jadilah diskusi pada pagi itu basa-basi untuk memmbuat kami untuk belajar mengerti tentang cara mengambil hati.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.