Ini adalah pekan akhir perkuliahan di kampus Eropa, karena setelah itu akan ada 2-3 pekan liburan selama Natal dan tahun baru. Setelah paginya ada Christmas Lecture, sore ini kami diajak oleh Prof. Tausch dan pasukannya untuk menikmati Gluhwein di pusat kota dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Sempat ragu dengan Gluhwein-nya karena katanya itu minuman beralkohol yang diminum hangat di hari-hari mendekati Natal. Setelah bertanya banyak hal, akhirnya kami tahu bahwa mereka menghormati kami sebagai muslim yang tidak boleh meminum alkohol. Jadi kami diberi kinderpunch, minuman anak-anak yang dikemas seperti bir, rasanya juga masam tapi non alkohol. Yah memang mirip wedang asam dan tidak ada alkoholnya. Kami minum sambil cengar-cengir. Harusnya minta tambah gula. Tapi orang cuma dikasih masih ramai lagi.

Malam ini sangat berbeda, karena biasanya aku menjumpai orang-orang di bagian Pendidikan Kimia universitas Wuppertal bergantian saja, kali ini kami berkumpul bersama kecuali Dr. Amitabh karena sudah terbang ke India dan Dr. Anne yang ada keperluan lain. Usai berdiskusi ria dan mendengar wejangan layaknya kakek kepada cucunya, karena kebanyakan kami masih mahasiswa, termasuk Rene, Sbastian, Frederik, Christin, Nico, mereka masih mahasiswa seperti kami, akhirnya perbincangan ini dlanjutkan di sebuah restoran Italia di pusat kota Wuppertal, Viermahl Restorant namanya.

Semua memesan makanannya, dan seperti biasa, rumus kami adalah keine Schwein und alkohol. Kami memilih semacam nasi dan ayam goreng (namanya aneh dan sulit dijelaskan di sini). Meskipun sempat mikir juga apakah ayam gorengnya itu pasti boleh atau tidak, tetapi ketika membaca fatwa ulama bahwa sembelihan ahlikitab diperbolehkan maka aku mengambil keumuman fatwa itu (semoga saja ini pilihan terbaik). Aku menikmati makanan dengan lezat seperti yang lain. Dan perbincangan kami pun semakin seru mulai dari hal-hal yang sederhana hingga yang sangat berarti. Awalnya aku asyik berbincang dengan Rene, Sbastian, dan Frederik. Mereka adalah mahasiswa pilihan yang kuliahnya lama (karena kebanyakan proyek riset dari Prof. Tausch).

Aku sangat suka ketika Prof. Tausch mengajak diskusi tentang pendidikan dan televisi. Menurut beliau sekarang Jerman juga sedang diuji dengan banyaknya stasiun televisi yang bermunculan (ya, di apartemenku, ada hampir 30 channel yang bisa kulihat tiap hari, tapi aku cuma memilih BBC dan CNN karena berbahasa Inggris). Dan itu merupakan hal yang gila katanya, orang-orang jadi banyak menonton televisi. Padahal pendidikan itu memegang peranan penting dalam kemajuan sebuah bangsa (yah ini tesis klasik yang selalu kita gunakan sebagai jawaban formal setiap ujian).

Aku pun berbagi tentang kondisi pertelevisian di Indonesia yang juga tidak kalah hancurnya. Hanya saja aku masih punya cerita yang membuat beliau senang, yakni tentang TVRI, khususnya program TV Edukasi. Televisi pemerintah yang satu ini bisa membuatku memiliki kebanggaan akan Indonesia, bahwa kita masih punya potensi untuk membuat anak bangsa ini baik. Aku jadi terpikir bagaimana kalo nanti membuat gerakan cinta anak negeri yang salah satunya mengkampanyekan anak-anak sekolah untuk menonton program-program TV Edukasi yang baik dan mencerahkan. Ini ide bagus sepertinya, sebuah langkah kecil untuk menyelamatkan anak bangsa.

Kemudian beliau juga bertanya tentang sejarah bangsa Indonesia. Yah, aku senang sekali bisa bercerita tentang Presiden Soekarno, founding fathers negeri ini yang meletakkan dasar-dasar kemandirian bangsa bersama bung Hatta. Dan aku senang dengan antusiasme beliau menyimak penjelasanku yang bahasa Inggrisnya pas-pasan ini. Aku senang bisa bercerita Indonesia malam ini. Indonesia yang hebat dan masih selalu ada harapan dari generasi mudanya. Kawan, ke luar negeri itu adalah tidak sekedar senang-senang. Maka siapkanlah pengetahuan kita secara komprehensif tentang negeri kita, bangun wawasan kebangsaan kita agar suatu ketika kita bisa berbicara dengan berapi-api tentang tanah air kita. Bagaimanapun Indonesia adalah tanah kelahiran kita. Bahkan jika suatu saat kita menjadi diaspora di tanah rantau, hati kita tetap kembali untuk membangun Indonesia suatu saat.

Dan makan malam kali ini adalah tanda kebersamaan kami akan segera berakhir hingga kami pulang ke Indonesia nanti. Karena tanggal 30 Desember 2012, Prof. Tausch dan tim masih di rumahnya masing-masing menikmati liburan. Menyenangkan sekali diskusi malam ini, tetapi juga mengharukan bagi kami karena tak lama lagi wajah-wajah mereka akan menghilang dari hadapan kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.