Jika kita mau menjadi orang yang senantiasa dekat dan peduli dengan masjid, maka Allah akan menjamin rizki dan menjadikan kehidupan kita lebih baik. (Pak Suwanto)

Menjadi pemuda yang peduli dengan masjid hari ini, rasanya adalah sebuah ujian sekaligus tes keberanian. Di saat para generasi ABG terlelap dalam berbagai demam hedonisme, mulai dari demam Korea hingga demam-demam yang lainnya. Semakin hari, aktivitas kemasjidan makin sepi dari para pemuda. Tinggallah segelintir yang masih peduli untuk meramaikan, dan mungkin juga masih ada yang mau berkhidmat menjadi generasi yang dijanjikan mendapat naungan di hari akhir ketika tidak ada lagi naungan selain naungan Allah azza wa jalla.

Adalah Pak Suwanto, seorang bapak yang masih berusia muda yang sangat gigih menjadi salah seorang pejuang agama ini. Beliau bisa dikatakan adalah generasi pelanjut pak Waluya  yang kisahnya pernah kuungkap sebelumnya. Seorang sarjana pertanian yang dulunya mengaku termasuk golongan orang yang susah untuk sekolah sekarang berkisah bagaimana masjid menjadi jaminan bagi Allah untuk menganugerahinya kelapangan hidup. Mungkin itu ujian untuk rasa syukurnya, namun jika dipandang dari masa lalunya itu bisa jadi menjadi nikmat baginya yang luar biasa.

Beliau dulu adalah penjaga masjid di tempat yang kutinggali saat ini ketika masih jadi mahasiswa. Dan sekarang dia telah menjadi suami dari putri seorang profesor. Di masyarakat, beliau juga mendapat kedudukan sebagai ketua takmir masjid. Padahal usia beliau relatif muda dibandingkan dengan bapak-bapak yang ada di masyarakat itu. Di masa kepemimpinannya ini, berbagai visi telah beliau pancangkan untuk membangun masjid baik secara fisik maupun memakmurkan jamaahnya. Upaya-upaya yang beliau lakukan adalah meremajakan gerakan pemuda yang boleh dikatakan telah terlihat hasilnya. Pasalnya di masjid yang lain, jarang sekali pemudanya bisa dihimpun seperti di sini. Kemudian acara pengajian bapak-bapak dan ibu-ibunya. Beliau adalah single fighter yang sangat menginspirasi.

Mimpi yang ingin dia wujudkan adalah menjadikan para pemuda senantiasa cinta dan dekat dengan masjidnya. Bagaimanapun, mencintai masjid adalah hal yang kunci. Jika hari ini aktivitas masjid sepi dari kegiatan pemudanya, maka lihatlah seberapa besar cinta pemuda hari ini terhadap masjidnya. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mempertahankan cinta kita untuk masjid dan mengajak yang lain mencintai masjid. Save our masjid keep our hearts and our souls, demikian kata Justice Voice. Jadi tunggu apa lagi, keep moving on Islam.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.