Imam Shamsi Ali: Serba-Serbi Dakwah di Negeri Barat #1
Perspektif, itulah istilah pertama yang kukenali maknanya dalam pelajaran seni rupa ketika SMP dahulu. Sebuah titik yang digunakan untuk memandang sebuah obyek atau dalam bahasa singkatnya sebagai sudut pandang. Selanjutnya adalah persepsi, sebuah istilah yang menyangkut penyerapan makna suatu hal. Kedua istilah itu mungkin sering diucapkan tetapi terkadang kita lupa merenungkan dan menyegarkan maknanya.
Jika Anda seorang muslim, apa pendapat Anda tentang Eropa dan Amerika? Negeri kafir? Negeri yang tidak beradab. Anda pernah ke sana? Pernah melihat langsung dari dekat masyarakat di sana? Jika belum, hari ini Allah menghamparkan segala sarana perjalanan untuk kita bisa mencari bukti dari pada terhasut oleh berita-berita terkadang keluar dari mulut orang-orang yang sedang sakit hati.
Ketika aku dulu akan menjejakkan kaki ke Eropa pertama kali aku merasakan ada yang mengerikan. Bagaimana dengan shalat saya, bagaimana dengan cara hidup saya, bagaimana dengan makanan saya, dan segalah HOW yang tidak terjawabkan hingga saat sudah berada di dalam pesawat terbang. Tetapi semua banyangan ngeri itu terhapuskan setelah sebulan berada dalam lingkungan yang penuh dengan suasana toleransi. Setidaknya, Eropa tidak seburuk dalam benak kita, bahkan dari sana kita bisa belajar bagaimana bangsa Indonesia dan negeri-negeri yang mayoritas muslim bangkit dari kebodohannya untuk memperbaiki kehidupannya.
Seperti itulah kira-kira bahasa lain dariku ketika aku selesai melahap buku bertajuk Imam Shamsi Ali : Menebar Damai di Bumi Barat. Beliau yang kini menjadi imam di Islamic Center New York, tepatnya di kawasan Ground Zero, bekas reruntuhan gedung WTC mengabarkan dengan damai bagaimana Islam telah menyinari penjuru bumi dengan dakwah yang penuh hikmah. Tinggal di negeri yang muslimnya minoritas bukanlah sebuah ancaman asal selalu berpegang pada akhlak yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam.
Buku yang mengupas perjalanan sang Imam dari desa yang sangat terpencil dengan kehidupan Islam yang sudah bercampur dengan adat setempat menuju Pakistan, Jeddah dan akhirnya berlabuh di negara Adidaya dunia saat ini, Amerika Serikat. Ada banyak perspektif baru yang perlu kita pahami agar otak kita tidak kolot dengan satu cara pandang saja, sehingga dalam menyikapi berbagai kondisi yang terus berubah kita menjadi “empan papan“. Ada persepsi yang harus kita luruskan terhadap hal-hal yang selama ini tidak kita ketahui namun terlanjur diprasangkai.
Dalam buku itu pula kita akan belajar bagaimana mengaplikasikan beberapa akhlak Rasulullah tentang memuliakan tetangga dan membuktikan kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang rusak. Tentu saja apa yang telah beliau lakukan di negeri Paman Sam adalah bukti nyata bahwa Islam ternyata dapat menembus benua yang dahulu dikatakan sangat membenci kehadiranya. Dakwah Islam itu kembali kepada akhlak para juru dakwahnya. Karena Islam adalah kebenaran yang sudah kita imani, tetapi tak semua orang sanggup menampilkan kebenaran itu sebagai kebenaran yang dapat dipilih oleh manusia-manusia yang dikehendaki oleh Allah mendapat hidayah.
bersambung ….