Sahabat, pernahkah engkau sakit. Tentu saja pernah kan. Sakit adalah bagian dari peristiwa hidup agar kita merasakan betapa besarnya anugerah sehat. Mungkin lebih konyolnya, sakit kita perlukan agar jangan sampai kita mengalami kebosanan terhadap sehat.

Sejak dua hari yang lalu, Allah mencobai diriku dengan rasa sakit. Badan yang meriang, kepala pusing, dan menggigil setiap sore hari menjadi hidangan selama beberapa waktu ini. Barangkali kondisi badanku yang tidak fit saat mendaki Gunung Lawu memberikan efek yang membuatku harus lebih banyak beristirahat.

Hari ini adalah hari ketiga aku sakit. Sakit yang aneh, karena badan cenderung normal di pagi hari meskipun sering lemas dan pusing. Tapi rasa sakit beneran baru muncul menjelang sore hari hingga malam. Akhirnya kuputuskan, hari ini aku akan pulang. Tapi aku akan mampir dulu ke Sekolah Alam Bengawan Solo untuk mengembalikan sleeping bag yang kupinjam untuk pendakian Lawu akhir pekan kemarin.

Sesampainya di SABS ternyata aku disambut dengan riuhnya pelatihan penyuluhan yang diikuti para penyuluh swadaya alias para petani yang memiliki kepedulian untuk terus berinovasi dan mengajak petani yang lain untuk maju. Inilah sosok-sosok pejuang sejati yang biasanya lebih bersemangat memajukan pertanian Indonesia dibanding para penyuluh yang berlabel pegawai negeri. Lagi-lagi aku dapat hadiah untuk mengisi training seputar pemanfaatan IT untuk pemasaran produk pertanian. Meskipun sebenarnya belum pernah membuat web untuk ngurusi jualan produk pertanian, tapi setidaknya pengalaman yang cukup lama di dunia per-web-an menjadi modal bagiku.

Sakitku hilang selama di sekolah spesial itu. Ditambah lagi dengan pembantaian yang dilakukan pak Lurah Juanda dan para petani itu kepada para pejabat provinsi yang datang hari itu. Aku tertawa melihat kebiasaan orang-orang dinas yang banyak beretorika dan akhirnya ditebas argumentasinya oleh warga yang kritis dan kepala desa yang pro-rakyat itu. Satu pelajaran penting bagi para pejabat agar suka turun ke bawah dan mendengarkan langsung keluhan rakyatnya.

Setelah urusan di SABS selesai, aku segera memacu kendaraanku pulang. Aku pun segera beristirahat karena waktu sudah menjelang sore, dan penyakit anehku itu kembali muncul lagi. Penyakit anehku itu sebenarnya biasa, tekanan darah rendah yang dimiliki ayahku sepertinya menurun pada diriku. Dan jika hari ini aku sakit itu tandanya aku berada di tekanan darah yang sangat rendah dari ambang batasnya. Dan inilah nikmatnya orang yang kena darah rendah, akhirnya aku bisa menikmati sate kambing. Nikmatnya sakit!

Sahabat, sakit, senang, tertawa, menangis, sedih, gembira semuanya adalah hal yang akan menjadi biasa saja kita alami ketika kita melihat bahwa itulah bumbu kehidupan yang Allah pergilirkan untuk kita. Tinggal bagaimana sikap kita untuk menyikapinya karena semua itu akan kita pertanggungjawabkan. Jika kita menghadapinya dengan penuh keyakinan dan ketaqwaan pada Allah, semoga di Dia berkenan untuk mengampuni dan memberikan petunjuk kebaikan kepada kita semua. Hidup itu indah, lengkap dan sempurna sebagai anugerah-Nya untuk kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.