“Kekuatan besar menuntut tanggung jawab yang besar” (narasi dalam Film Spiderman 3)

Recall my Memory

“Sahabat, bagaimana kalo aku mengundurkan diri saja? Sepertinya aku sudah tidak sanggup menjadi pemimpin kalian. Aku gagal untuk mengatur dan mengordinasi kalian. Aku gagal untuk mewujudkan cita-cita lembaga”, tulisku dalam SMS sesaat setelah erupsi emosi dan pemampatan perasaan terjadi dalam kawah kepribadianku. Rasa-rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya karena hal ini. Berbagai perasaan mulai dari kecewa, menyesal, dan serangkaian perasaan tidak baik bersarang di dada. Yah, itulah perasaan dari seorang yang kurang siap untuk menerima sebuah kondisi kehidupan nyata, kehidupannya manusia. Karena mungkin terlalu banyak berkecimpung dalam eksperimen pemikiran tingkat dewa.

Ternyata menuliskan rangkaian kalimat itu, cukup mengacaukan kondisi sebuah lembaga yang memang sedang merangkak setelah mengalami kekacauan dan hidup dalam bayang fatamorgana, atau mudahnya yang telah terjebak dalam nuansa “seolah-olah”. Seolah-olah baik jika ketuanya orang terkenal dan berprestasi. Seolah-olah solid jika kemudian banyak orang-orang penting dan keren ditempatkan di sana. Seolah-olah berhasil jika telah menjalankan even super besar, meski meminta korban yang tak terperikan, minimal korban SIM mati suri untuk setengah periode. Dan kabar terakhir pun sama kan, setelah megaevent besar yang telah menyedot kerja keras SDM ini terindikasi mematikan semangat separuh SDM, terutama semangat untuk kembali ke jalan yang benar. Yaitu jalannya orang-orang yang berkarya dan berkontribusi dengan ide-idenya dalam menyelesaikan permasalahan di sekitarnya, bukan mengekor perintah dan menunggu instruksi atasannya.

Tapi mungkin kita lupakan saja semua itu. Karena kalo dipaksakan siapa yang benar, dan siapa yang seharusnya mengalah akan jadi tidak penting. Bukankah ini sebuah dinamika yang intinya membuat orang berpikir dan belajar. Membuat orang berani membuat sebuah perubahan dan bersinergi. Kalau dalam bahasa sederhanaku setelah terinspirasi dari kata-kata sang Suhu Krisna tentang kaderisasi, lembaga ini masih sangat muda, maka jika masih tidak karuan bentuknya adalah wajar. Yang tidak wajar jika sampai bertahun-tahun kita tidak bisa menciptakan sistem yang membuat adik-adik itu senang beraktivitas di SIM dan memiliki alasan yang mendasar (bahasa gaulku “ideologis”) mengapa harus bersama SIM. Itu saja. Jadi mari kita menatap masa depan dengan lebih optimis. Dan aku meminta maaf untuk semua kata yang terucap di puncak ke-frustasi-anku setelah merasa ditinggalkan dan tidak dipedulikan. (Ini hanya paradoks yang biasa terjadi di tempat kita. Kita serasa akrab dan saling mengenal, tapi sebenarnya masih belum. Seakan memperhatikan, tapi tidak saling tahu isi kepala yang tengah dipikirkan. Seakan saling mengerti, tapi tidak terjadi interaksi dengan bahasa yang baik dan berfrekuensi sama. Terutama yang saya rasakan sendiri).

Berasa Soekarno yang Gagah

Setelah semua sehat kembali. Aku hanya ingin berkata, bahwa kita sekarang tidak sedang berbuat seperti air mengalir di sungai-sungai. Tapi kita sedang mencoba menjadi air mancur, yang membawa energy tinggi sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Bergerak dengan seni dan enerjik. Bergerak dengan sebuah tekanan yang kuat tetapi tetap indah dan menarik. Kita memiliki tanggung jawab untuk menjadikan adik-adik kita laksana air mancur yang menakjubkan, bukan seperti air-air mengalir biasa saja.

Lembaga yang kita pimpin sekarang sedang membutuhkan sosok Soekarno muda. Ada yang tidak kenal? Baiklah, akan saya ambil salah satu slogannya yaitu berdikari, kalau tidak salah kepanjangannya adalah berdiri di atas kaki sendiri ya. Sadarkah kita bahwa sudah sekian waktu organisasi kita ini mirip seperti Indonesia yang selalu ketergantungan dengan apa-apa yang berbau asing. Sehingga sampai sekarang meskipun pertumbuhan Indonesia dikatakan positif dan besar tidak dapat menjadi jawaban atas kemiskinan dan permasalahan negara-bangsa. Ironis sekali jika dibandingkan dengan negeri tetangga Malaysia yang dulu berguru pada Indonesia, yang pemimpinnya juga mengagumi seorang Soekarno. Padahal kita punya potensi yang tersimpan baik yang terlihat di luar maupun di dalam. Dan itulah yang masih kita lakukan sampai periode ini.

Maka, sekali lagi tidak usah di ungkit masa lalu yang sudah. Tapi yang sudah berada di sini mari kita berbenah. Ada hal yang perlu kita kaji kembali dari pemikiran Soekarno tentang berdikari agar kita menjadi gagah, segagah beliau. Karena itu akan menjadi bukti tanggung jawab kita ketika kita sudah angkat kaki dari kursi pengurus SIM ini dan menjadi kakak yang dikenang sepanjang masa dalam sejarah lembaga yang luar biasa ini.

Pertama, berdikari di sini akan mengisyaratkan bahwa kita harus mati-matian menjadi tim yang solid dan bersedia meluangkan banyak waktu di antara semua waktu kita untuk lembaga. Pertanyaannya, sekarang pikiran kita lebih fokus di mana? Kemudian apakah aktivitas kita juga sudah mencerminkan ruh lembaga ini? Apakah tekad kita sudah sekuat keinginan lembaga ini di masa depan? Mari kita renungkan dan kemudian jawab dengan semangat kerja keras kita. Kita bukan terlahir sebagai tim, padahal satu satu dari kita adalah personil yang hebat, tapi sekali lagi, ketika kita belum menjadi tim maka kita tidak akan bisa memberi jawaban kepada lembaga ini dengan optimal. Faksi dan kesenjangan pemikiran adalah tantangan kita bersama, tidak boleh ada yang menyerah satu pun. Semoga kita bisa mencapai derajat tim minimal sebelum kita berpisah.

Kedua, berdikari mengisyaratkan bahwa kita harus menghargai adik-adik kita. Siapa pun mereka, dan apa pun kondisi mereka saat ini, mereka adalah orang-orang yang paling berhak dan paling harus bertanggung jawab untuk menjadi pengusung lembaga ini ke depan. Kita telah belajar dari kesalahan pertama yakni kita tidak terlahir sebagai tim. Maka tugas kita adalah membuat mereka menjadi tim sebelum resmi menggantikan kita. Dan tugas yang juga sangat penting adalah membentuk mereka menjadi duplikat-duplikat kita. Tapi sebaiknya lebih dari sekedar duplikat, mereka adalah file-file yang tidak berstatus “read only” tetapi “archieve” sehingga mereka dapat berkembang sendiri ketika mendapat sentuhan luar di masanya. Damen damen pari pari, biyen biyen saiki saiki.

Jika adik kita belum bisa menulis, latih sampai bisa menulis. Jika belum bisa bernegosiasi latih sampai bisa. Jika belum bisa jadi juara, motivasi sampai bisa menjadi juara. Dan semua bisa kita lakukan. Dan lakukan dengan istiqomah, tiada kenal henti. Karena kita hanya bisa membuat sebab, Allah-lah yang akan memberi jawabannya. Jangan berpikir lagi untuk mengambil siapa pun dari luar keluarga kita, sebaik apa pun dia, sekeren apa pun dia jika tidak ada alasan yang bisa diterima akal. Bukankah kita sudah merasakan betapa sulitnya kita mengerti bersama untuk sebuah jalan yang kita tempuh sekarang. Sehingga kita saling berdebat pada hal yang sama, hanya gara-gara berbeda sudut pandang. Eyel-eyelan pada hal yang tidak penting, dan mendahulukan hal-hal yang seharusnya diakhirkan, karena masing-masing kita mengusung kultur dan cara pandang warisan dari masing-masing tempat terbentuknya kita. Jika mau begitu harusnya saat kita sebelum menjadi pengurus harian, sehingga energy kita tidak terbuang percuma. Untung kita diberi waktu 14 bulan kawan. Luar biasa, lama dan melelahkan, tapi insya Allah akan muntijah.

Ketiga, berdikari membuat kita tidak hanya berpikir bagaimana untuk mandiri saat ini saja. Apa artinya capaian kita saat ini jika sistem yang akan kita wariskan tidak bertahan dalam 10 tahun. Percuma saja kita sudah kuliah diperlama, dipergalau dan dipersulit karena harus banyak meluangkan waktu untuk organisasi yang kita cintai ini. Jadi tidak ada pilihan bagi kita kecuali berhasil di saat ini. Mari kita bertanggung jawab untuk membentuk adik-adik kita sendiri. Jumlah tidak penting, yang penting ada yang dididik dan ke depan bisa menjadi penerus kita, berapa pun itu.

Ini hanya sekedar refleksi atas berdikarinya Soekarno dulu saat mengazzamkan Indonesia ini menjadi negara yang kokoh, hanya saja harapan itu belum terjawab karena jumlah penghianat di negeri ini masih lebih besar dari pada pejuangnya. Padahal satu penghianat saja akan sanggup memporak-porandakan strategi. Kita tentu bukan pengkhianat kawan, tapi kita adalah orang pertama yang diberi kesempatan untuk segera sadar sebelum kelak menjadi manusia yang tidak menyadari pengkhianatannya. Bukan karena berbuat kejahatan, tetapi karena kita punya kekuatan besar namun tidak gunakan semestinya. Kita bukan spiderman, tapi kita pasti lebih hebat dari spiderman atau pun superman. Ini bukan selorohan, tetapi adalah keyakinan. Yakinkah?

Epilog

Kawan, sudah bukan waktunya lagi kita bermain-main seperti anak kecil. Maka jika kita bercanda, itu menjadi inspirasi. Jika kita berdiskusi maka itu adalah proses rekonsiliasi ide. Jika kita rapat, maka itu kebijaksanaan. Mari kita menembus ruang-ruang di rumah Mr. Medici agar mengerti bagaimana Leonardo da Vinci dan Galileo Galilei menjadi manusia-manusia hebat. Kita belajar bersama dan menjadi hebat bersama. Jika salah satu dari kita unjuk gigi, maka itu bukan untuk menyiutkan nyali, tapi kita akan membuktikan sisi lain diri kita untuk berkontribusi. Prestasi bukan pada apa yang kita raih semata, tetapi pada proses terbaik yang sanggup kita jalani secara istiqomah.

Bukan saatnya kita banyak berpikir tanpa berbuat atau berbuat tanpa berpikir. Tapi berbuatlah dengan berpikir dan berpikirlah untuk berbuat. Semua seiring dan sejalan, semua indah dalam prosesnya dan muntijah pada masanya. Jangan lakukan sesuatu yang hanya menjadi lipstick organisasi kita untuk akhir periode nanti, tapi pikirkan dan lakukan sejak sekarang apa yang akan kita harapkan dari organisasi kita 10 tahun yang akan datang. Aku sudah berazzam untuk itu. Bagaimana denganmu, cintaku?

Aku tidak tahu mengapa judulnya menjadi Soekarno di waktu muda. Tapi aku hanya ingin berkata, jangan pernah melupakan sejarah. Jangan pernah lupa dengan Bung Karno, dan jangan lupa bahwa kita masih muda.

 

Ditengah iringan instrument Kenny G yang syahdu

Di kos yang sepi dan berdebu

Surakarta, 14 Juli 2012

(Tulisan ini kuhadiahkan untuk teman-temanku Pengurus Harian Studi Ilmiah Mahasiswa UNS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.